LIPUTAN KHUSUS:

Jadi Kelompok Rentan, Anak Muda Suarakan Dampak Krisis Iklim


Penulis : Kennial Laia

Save the Children mendampingi anak muda untuk menyuarakan dan menyebarkan kesadaran akan krisis iklim di Indonesia.

Perubahan Iklim

Senin, 25 April 2022

Editor : Sandy Indra Pratama

BETAHITA.ID -  Krisis iklim berdampak pada segala usia, termasuk anak-anak. Di Indonesia, ancaman seperti banjir, kekeringan, dan gagal panen diperkirakan akan memaksa jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang. 

Laporan global Save the Children Born into the Climate Crisis yang dirilis pada September 2021 menjelaskan, krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini. Anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 berisiko menghadapi tiga kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai, dua kali lebih banyak mengalami kekeringan serta tiga kali lebih banyak gagal panen.

“Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa anak-anak menanggung beban berat karena tumbuh dalam situasi yang mengancam dan anak memiliki beragam faktor yang membuat mereka lebih rentan secara fisik, sosial, dan ekonomi,” kata Ketua Pengurus Yayasan  Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung dalam keterangan tertulis, Jumat, 22 April 2022.

Krisis iklim juga mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan anak dalam berbagai bentuk. Menurut tinjauan Save the Children, hasil prediksi iklim sepuluh tahunan menunjukkan bahwa akan terjadi pengurangan jumlah curah hujan selama El Nino secara nasional.

Beberapa anak pulang sekolah di tengah asap akibat bencana kebakaran hutan dan lahan 2015. Foto: Greenpeace

Berdasarkan prediksi peluang terjadinya peristiwa cuaca kering ekstrem pada 2020-2025, beberapa wilayah diperkirakan akan mengalami cuaca ekstrem di atas normal.

Cuaca yang ekstrem ini dikhawatirkan akan menyebabkan bencana. Pada 2020, laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 4.650 total kejadian bencana alam. Sebanyak 99,2% merupakan kejadian bencana yang berasosiasi dengan faktor iklim dan cuaca. Kenaikan frekuensi dan intensitas ini seiring dengan bertambahnya jumlah pengungsi atau korban.

Di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah pengungsi akibat kekeringan bertambah secara signifikan. Pada 2018, jumlahnya diketahui 21.688 jiwa. Angka ini enam kali lebih besar pada 2019 hingga mencapai 139.746 jiwa, termasuk anak-anak.

Di Sulawesi Selatan, jumlah populasi terpapar gelombang tinggi dan abrasi diperkirakan mencapai 265.307 jiwa. Dari angka tersebut, 40.508 jiwa merupakan kelompok rentan termasuk anak-anak.  Anak-anak yang berada di wilayah Kepulauan Selayar, Takalar, Pangkajene Kepulauan dan Makassar memiliki risiko tinggi abrasi.

Sementara itu Jawa Barat mencatat 247 kejadian banjir pada 2021. Dari kejadian tersebut, korban meninggal dunia 20 orang, 282 mengalami luka, dan 1.440.252 orang terdampak dan mengungsi termasuk anak-anak. Jumlah kelurahan/desa terdampak banjir di provinsi juga bertambah secara signifikan selama periode 2019-2021.

Save the Children menekankan masih ada waktu untuk mengubah masa depan yang suram ini. Jika kenaikan suhu dijaga tidak lebih dari 1.5C, dampak dari ancaman iklim pada generasi mendatang dapat berkurang. Misalnya, kekeringan dapat menurun sebesar 39%, banjir sungai 38%, gagal panen 28%, dan kebakaran hutan 10%.

“Investasi  pada penurunan emisi seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi dengan upaya  penurunan risiko dan meningkatkan kapasitas adaptasi pada anak,” kata Selina.

Selina menjelaskan, Save the Children membentuk gerakan adaptasi dampak krisis iklim “Aksi  Generasi Iklim”. Pihaknya menggandeng mitra seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). 

Aksi Generasi Iklim merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi dan dipimpin oleh anak-anak dan orang muda. Tujuannya, memastikan anak-anak dan keluarga yang terdampak dapat bertahan dan beradaptasi terhadap dampak krisis iklim. Selain itu, aksi ini berharap memperkuat sistem terkait penanganan perubahan iklim di Indonesia.

Aksi ini diprakarsai oleh anak-anak Indonesia terutama dari wilayah terdampak krisis iklim secara langsung. Di antaranya anak-anak dari Jawa Barat, Sulawesi Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

"Setelah mendapatkan penjelasan mengenai dampak krisis iklim, saya lebih sadar bahaya perubahan iklim yang kita rasakan hari ini. Sudah saatnya anak-anak ikut bergerak dan dilibatkan, karena kami yang akan merasakan dampak terburuk dari krisis iklim saat ini dan pada masa mendatang,” kata Ranti, perwakilan Child Campaigner Jawa Barat Save the Children Indonesia.

Menurut Ranti, pemerintah harus melibatkan anak-anak dalam membangun kesadaran dampak krisis iklim dan menciptakan ruang yang aman dan nyaman untuk anak-anak berpendapat.

"Harusnya, semua anak bisa mulai berpartisipasi. Tapi sayangnya masih banyak anak-anak belum tahu tentang krisis iklim dan bagaimana mereka bisa berperan untuk membuat perubahan. Sebagai Child Campaigner, saya ingin mengajak semua anak bergerak dan tidak takut untuk bersuara,” ujar Ranti.

Sri Tantri Arundhati, Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK, mengatakan inisiasi tersebut berkontribusi pada program adaptasi perubahan iklim milik KLHK. “Hal ini juga sejalan dengan berbagai rekomendasi internasional tentang pentingnya melibatkan anak dan orang muda dalam upaya adaptasi,” kata Sri.