LIPUTAN KHUSUS:
Resep PBB untuk Memperbaiki Planet Bumi di Tengah Krisis Iklim
Penulis : Kennial Laia
Masih ada harapan untuk menjadikan Bumi sebagai planet yang lebih sehat dan adil untuk semua.
Krisis Iklim
Selasa, 06 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Laporan PBB tentang kondisi alam memberikan peringatan: umat manusia sedang mendorong Bumi ke titik kerusakan lingkungan, yang berpotensi menimbulkan akibat mengerikan bagi segala hal, mulai dari kesehatan manusia hingga perekonomian global.
Di sisi lain, laporan yang bertajuk Global Environment Outlook-7, yang diproduksi oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), menyatakan bahwa belum terlambat untuk mengubah haluan. Para peneliti menuliskan resep untuk planet yang lebih sehat yang berfokus pada transformasi lima sistem utama: ekonomi dan keuangan; bahan dan limbah; energi; makanan; dan lingkungan.
Reformasi ini akan memberikan sejumlah keuntungan, kata penulis GEO-7. Pada 2050, upaya-upaya tersebut dapat mencegah 9 juta kematian dini, mengangkat 100 juta orang keluar dari kemiskinan, dan memberikan bantuan kepada 200 juta orang dari kekurangan gizi.
Mereka juga dapat menghasilkan manfaat ekonomi sebesar US$100 triliun per tahun pada akhir abad ini.
PDB bukan satu-satunya barometer kekayaan
Selama beberapa dekade, banyak negara mengandalkan produk domestik bruto (PDB) sebagai barometer kekayaannya. Namun PDB tidak memperhitungkan hal-hal penting, seperti dampak finansial jangka panjang akibat degradasi lingkungan.
Itu sebabnya GEO-7 berpendapat bahwa negara-negara harus memiliki pandangan yang lebih luas mengenai kesejahteraan fiskal mereka. Salah satu cara adalah melalui akuntansi modal alam, yang menempatkan nilai uang pada sumber daya dan jasa yang disediakan oleh alam.
Jenis pengukuran ini dapat memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai kekayaan suatu negara, sehingga membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih baik bagi lingkungan dan manfaatnya.
Merombak insentif yang mengatur perekonomian global
Saat ini, sistem ekonomi global terlalu sering memberikan penghargaan terhadap praktik-praktik yang merugikan planet ini, kata para penulis GEO-7.
Untuk mengubahnya, mereka merekomendasikan beberapa hal, termasuk menggunakan kembali subsidi pemerintah sebesar US$1,5 triliun per tahun yang merusak lingkungan untuk sektor energi, pertambangan, dan pangan. Dalam beberapa kasus, negara juga harus mempertimbangkan pajak atas barang dan jasa yang merusak lingkungan. Misalnya, produksi pangan dan energi sering kali menghabiskan ruang alam dan menimbulkan polusi, namun biaya tersebut tidak tercermin dalam harga pasar. Pendapatan dari pajak apa pun harus mendukung kelompok yang paling rentan.
Laporan ini juga mendesak pemerintah untuk menyelaraskan anggaran dan kebijakan ekonomi mereka dengan tujuan perjanjian lingkungan hidup utama, seperti Perjanjian Paris. Laporan ini juga menyatakan bahwa negara-negara harus mendorong investasi dalam teknologi ramah lingkungan, mendorong warganya untuk membuat pilihan yang ramah lingkungan, dan memaksa dunia usaha untuk menanggung seluruh biaya kerusakan yang mereka timbulkan terhadap planet ini.
Tingkatkan pengelolaan sampah dan terapkan sirkularitas
Botol plastik, barang elektronik yang sudah ketinggalan zaman, bahan kimia berbahaya – banyak wilayah di dunia yang dibanjiri oleh polusi dan limbah. Oleh karena itu, menurut GEO-7, sangat penting bagi setiap negara untuk mengadopsi model ekonomi sirkular. Konsep ini menekankan pada menjaga sumber daya tetap digunakan selama mungkin dengan mendesain ulang, menggunakan kembali, memperbaiki dan mendaur ulang barang-barang yang sudah dibuat.
Untuk mendorong sirkularitas, negara dan dunia usaha dapat mengadopsi standar desain yang membuat produk bertahan lebih lama dan lebih mudah diperbaiki. Pemerintah dapat mewajibkan dunia usaha untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada produk di akhir masa pakainya sekaligus membuat peraturan yang memaksa perusahaan untuk mengungkapkan dampaknya terhadap alam.
Terakhir, negara-negara dapat mereformasi aturan pajak untuk memberi insentif pada pengembangan produk sirkular, mengalihkan subsidi dari sektor ekstraktif ke upaya sirkular, dan bekerja sama untuk memperluas perjanjian internasional yang mengatasi limbah dan polusi.
Lebih banyak investasi ke sektor energi terbarukan
Pada 2023, lebih dari 80 persen energi dunia berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, sehingga memicu krisis iklim yang menyebabkan atau memperparah kekeringan, banjir, badai super, dan bencana lainnya.
Untuk menghindari kerusakan iklim yang parah, laporan tersebut mengatakan negara-negara perlu meningkatkan produksi energi terbarukan, seperti tenaga angin dan surya. Mereka juga harus melakukan elektrifikasi pada sektor yang didominasi bahan bakar fosil, seperti transportasi, dan mengeksplorasi bahan bakar alternatif, termasuk hidrogen, untuk industri yang sulit untuk dialiri listrik.
Mengubah cara pikir tentang makanan
Saat ini cara dunia memproduksi pangan tidak berkelanjutan. Ini mendorong perubahan iklim, menghasilkan polusi, dan menghabiskan ruang alami, sehingga menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati.
Ada lima hal utama untuk mengubahnya, menurut GEO-7. Negara-negara pertama, terutama yang kaya, perlu beralih ke pola makan yang lebih ramah lingkungan, yang dalam banyak kasus berarti mengurangi konsumsi daging dan lebih banyak mengonsumsi makanan nabati. Kedua, pertanian tanaman pangan dan peternakan harus menjadi lebih efisien, menggunakan lebih sedikit lahan, dan lebih ramah lingkungan, sementara perikanan harus menjadi lebih berkelanjutan.
Ketiga, pemerintah, dunia usaha, dan konsumen harus bekerja sama untuk mengurangi limbah makanan, yang memberikan tekanan yang tidak perlu pada planet ini. Keempat, negara-negara perlu mengeksplorasi jenis makanan baru, seperti daging yang dihasilkan di laboratorium, dan metode produksinya, termasuk pertanian vertikal, yang seringkali memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil.
Terakhir, negara-negara dapat mereformasi sistem pangan mereka, dengan menekankan pada pangan yang diproduksi secara lokal dan mendiversifikasi rantai pasokan agribisnis.
Lakukan segala cara untuk melindungi alam
Tiga krisis di Bumi, yaitu perubahan iklim, hilangnya alam, lahan, dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah, semakin menggusur alam dan dalam prosesnya, mengancam masa depan miliaran orang.
Mengakhiri penurunan kualitas alam sangat penting untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, demikian temuan GEO-7. Untuk melakukan hal tersebut, penulis mendesak negara-negara untuk memperluas kawasan lindung, seperti cagar alam, memulihkan ekosistem yang telah rusak akibat pembangunan, dan menemukan cara yang lebih berkelanjutan untuk mengelola sumber daya di darat dan laut.
Selain itu, laporan tersebut juga menyerukan peningkatan solusi alami terhadap masalah lingkungan, seperti penanaman pohon untuk mengurangi suhu di kota-kota yang menghadapi panas ekstrem akibat perubahan iklim.
Terakhir, laporan tersebut menyatakan pentingnya menjadikan pengelolaan sumber daya bersama – mulai dari hutan hingga perikanan – menjadi lebih transparan dan adil.

Share

