LIPUTAN KHUSUS:

Update: Air Laut Naik 1 Cm, Tebal Salju Puncak Jaya Turun 4 M


Penulis : Gilang Helindro

Perubahan iklim juga mengakibatkan 18 ribu kilometer garis pantai masuk kategori rentan.

Iklim

Sabtu, 20 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan tinggi muka laut di Indonesia mengalami kenaikan 0,8-1,2 sentimeter per tahun akibat perubahan iklim. Donaldi Permana, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Klimatologi Pusat Litbang BMKG dalam seminar virtual menyebut, hal ini berdampak kepada hilangnya beberapa pulau kecil di wilayah Indonesia atau daerah kota di pesisir.

Adapun kenaikan suhu secara nasional antara 0,45 hingga 0,75 derajat celcius.

Akibatnya tak hanya menghilangnya daratan. Donaldi mengatakan, sebanyak 18 ribu kilometer garis pantai diperkirakan masuk kategori rentan akibat perubahan iklim. “Dan perubahan curah hujan sekitar 75 milimeter per bulan,” kata Donaldi.

“Selai itu diperkirakan 5,8 juta kilometer persegi wilayah perairan Indonesia berbahaya bagi kapal nelayan khususnya yang berukuran kurang dari 10 gross tonnage (GT),” kata Donaldi, dikutip Jum’at, 19 April 2024.

Ilustrasi tinggi muka laut di Indonesia mengalami kenaikan. Foto: dsda.jakarta.go.id/Hadua

Sementara itu, suhu rata-rata global juga meningkat selama 10 tahun terakhir yakni 2014-2023 mencapai 1,20 plus minus 0,12 derajat celsius di atas periode tahun 1850-1900.

Donaldi menjelaskan peningkatan suhu menyebabkan pemanasan global, terutama akibat tingginya konsentrasi karbon dioksida karena konsumsi energi fosil di antaranya batubara, minyak bumi yang masif. Penyebab lainnya adalah deforestasi.

Suhu yang meningkat turut membuat pencairan es di kutub utara dan selatan, yang mendorong kenaikan muka laut secara global mencapai sekitar 4,72 milimeter per tahun pada periode Januari 2013-Desember 2022. “Yang terdampak lebih awal kenaikan tinggi muka laut adalah negara di wilayah iklim tropis dibandingkan negara di belahan bumi utara dan selatan,” kata Donaldi.

Di Indonesia, BMKG menemukan ketebalan tutupan es di Puncak Jaya, Papua, berkurang sekitar empat meter berdasarkan pemantauan terakhir pada Desember 2023.

“Hal ini kemungkinan terkait kondisi El Nino pada 2022-2023,” kata Donaldi.

BMKG melakukan pemantauan tutupan es atau gletser di Puncak Jaya pada 2009-2023. Pada 1850 cakupan luas es abadi di Puncak Jaya Papua mencapai sekitar 19 kilometer persegi dan terus menciut. Dari 2016 hingga 2022, rata-rata pengurangan luas es mencapai sekitar 0,07 kilometer persegi per tahun. Per April 2022, luasnya diperkirakan tinggal 0,23 kilometer persegi.

Ketebalannya pun menurun. Pada pemantauan Desember 2022, BMKG memperkirakan ketebalan es yang tersisa mencapai enam meter. Namun, satu tahun kemudian yakni pada Desember 2023 data terakhir menunjukkan ketebalan es makin menipis dengan pengurangan hingga empat meter atau menyisakan hingga ketebalan dua meter.

BMKG menyebut perubahan iklim akibat pemanasan global berperan besar membuat tutupan salju abadi satu-satunya di wilayah Indonesia itu sedikit demi sedikit terus menipis sejak revolusi industri pada 1850.

Selain di Puncak Jaya, beberapa pegunungan wilayah tropis juga mengalami pencairan es, seperti Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Quelccaya di Peru, dan Naimona’nyi di dataran tinggi Himalaya, Tibet.

Untuk menekan pemanasan global, perlu dilakukan upaya mitigasi, di antaranya dengan mengurangi penggunaan BBM fosil, beralih menggunakan energi bersih atau energi baru terbarukan. “Selain itu, gerakan penghijauan, hemat penggunaan listrik, hingga mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,” ungkap Donaldi.