El Nino bakal Kembali Akhir 2026 - Prediksi PBB
Penulis : Kennial Laia
Iklim
Minggu, 08 Maret 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Fenomena cuaca El Niño yang memanas bisa kembali terjadi pada akhir tahun ini seiring memudarnya pendinginan iklim atau La Niña, menurut badan cuaca PBB.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) PBB pada Selasa, 3 Maret 2026, mengatakan La Niña yang lemah baru-baru ini diperkirakan akan berubah menjadi kondisi netral, yang kemudian dapat berubah menjadi El Niño sebelum akhir tahun 2026.
La Niña merupakan fenomena iklim alami yang mendinginkan suhu permukaan di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Kondisi ini membawa perubahan pada angin, tekanan, dan pola curah hujan.
WMO mengatakan ada kemungkinan 60% terjadinya kondisi netral selama periode tiga bulan dari Maret hingga Mei. Sementara itu kemungkinan terjadinya La Niña sebesar 30%, dan El Niño dengan probabilitas 10%.
Selama April-Juni, WMO memprediksi kemungkinan 70% kondisi iklim menjadi kondisi netral.
Pada bulan Mei-Juli, kemungkinan kondisi netral turun kembali menjadi 60%, dan kemungkinan terjadinya El Niño sebesar 40%.
“Komunitas WMO akan secara hati-hati memantau kondisi dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi dalam pengambilan keputusan,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam pernyataan resmi, Selasa, 3 Maret 2026.
“El Niño terbaru, pada 2023-2024, adalah salah satu dari lima El Niño terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang kita lihat pada 2024,” katanya.
El Niño berkontribusi menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua dan tahun 2024 sebagai tahun terpanas sepanjang masa.
Suhu di atas rata-rata
WMO menggarisbawahi bahwa peristiwa iklim yang terjadi secara alami seperti La Niña dan El Niño terjadi dengan latar belakang perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, yang “meningkatkan suhu global dalam jangka panjang, memperburuk cuaca dan peristiwa iklim ekstrem, serta berdampak pada curah hujan musiman dan pola suhu.”
Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) AS mengatakan ada kemungkinan 50 hingga 60% El Niño berkembang selama periode Juli-September dan seterusnya.
“Prakiraan musiman El Niño dan La Niña membantu kita menghindari kerugian ekonomi senilai jutaan dolar dan merupakan alat perencanaan penting untuk sektor-sektor sensitif iklim seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air,” kata Saulo.
“Mereka juga merupakan bagian penting dari intelijen iklim yang diberikan oleh WMO untuk mendukung operasi kemanusiaan dan manajemen risiko bencana, sehingga dapat menyelamatkan nyawa,” katanya.
Pembaruan Iklim Musiman Global terbaru WMO menunjukkan adanya sinyal global yang luas mengenai suhu permukaan tanah di atas rata-rata pada bulan Maret hingga Mei.
Prediksi curah hujan di Pasifik khatulistiwa menunjukkan pola serupa La Niña, namun di belahan dunia lain, sinyalnya lebih beragam, katanya.
SHARE

Share
