Populasi Mangrove Langka Ditemukan di Teluk Balikpapan

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Senin, 25 Mei 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada menemukan populasi mangrove langka Camptostemon philippinensis di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain penting bagi ekosistem pesisir, keberadaan mangrove ini juga diduga memiliki hubungan ekologis dengan bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi.

Spesies Camptostemon philippinensis merupakan mangrove yang masuk kategori terancam punah berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Di Indonesia, tumbuhan ini juga termasuk jenis mangrove yang dilindungi pemerintah karena populasinya sangat terbatas dan tersebar di lokasi tertentu di Kalimantan dan Sulawesi.

Populasi jenis ini ditemukan di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Sebelumnya, tim peneliti menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove Teluk Balikpapan, mulai dari Sepaku hingga pesisir kota Balikpapan. Mereka menggunakan perahu untuk mengamati vegetasi mangrove dan mendata jenis-jenis mangrove pada wilayah tersebut.

Pada survei awal, peneliti menemukan satu pohon C. philippinensis di Pulau Kowangan, kemudian ditemukan beberapa pohon lagi di Pantai Lango. Penelusuran lanjutan kemudian dilakukan untuk mengetahui jumlah individu dalam populasi tersebut, tahap pertumbuhan, serta distribusi spesies tersebut di habitat alaminya.

Para peneliti menemukan populasi mangrove langka di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Foto: BRIN.

Hasil penelitian yang didanai BRIN dan LPDP melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi pada 2022 dan RIIM batch II pada 2023-2024 tersebut menunjukkan data sekitar 527 individu C. philippinensis di kawasan Pantai Lango.

Populasi itu didominasi oleh semaian atau anakan muda sebanyak 452 individu, diikuti 49 pohon dewasa dan 26 pancang. Kondisi tersebut menunjukkan spesies ini masih memiliki kemampuan regenerasi alami yang cukup baik, meskipun keberadaannya terbatas pada habitat yang sempit.

Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, mengatakan keberadaan spesies mangrove langka tersebut menunjukkan pentingnya Teluk Balikpapan sebagai habitat biodiversitas pesisir yang harus dijaga secara berkelanjutan.

“Keberadaan C. philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ujar Istiana, dalam sebuah keterangan tertulis, pada Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, populasi C. philippinensis menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia, mulai dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara.

Habitat spesies ini berada di area mangrove yang relatif sempit dan terlokalisasi, serta dekat dengan pemukiman penduduk. Sehingga, kerusakan kecil sekalipun dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal.

“Habitat C. philippinensis sangat terbatas. Jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” ujarnya.

Selain penting bagi ekosistem pesisir, keberadaan mangrove ini juga diduga memiliki hubungan ekologis dengan bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi. Peneliti menemukan indikasi bekas gigitan primata pada daun C. philippinensis serta informasi keberadaan kelompok bekantan di sekitar habitat mangrove tersebut dari Darman, nelayan setempat yang turut mendampingi kegiatan tim selama di Teluk Balikpapan. 

Habitat C. philippinensis di Teluk Balikpapan berada pada zona mangrove lapis kedua dengan tekstur tanah dominan berpasir dan genangan air yang terjadi saat pasang tinggi. Di kawasan itu, spesies ini tumbuh bersama sejumlah vegetasi mangrove lain seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera littorea, dan Xylocarpus granatum

Tim peneliti menilai diperlukan langkah konservasi yang lebih kuat untuk melindungi populasi mangrove langka tersebut. Upaya yang direkomendasikan meliputi perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman. Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis spesies ini juga dinilai penting untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang di Indonesia.

Data pemberitaan betahita sendiri menyebutkan lokasi tempat baluno filipina di Pantai Lango berdekatan dengan dermaga logistik dan bandara VVIP IKN.

Peta Temuan baluno Filipina di Teluk Balikpapan. Foto: publikasi temuan baluno Filipina di Teluk Balikpapan.

Secara penampakan tanaman ini tak berbeda dengan mangrove lainnya. Bentuknya yang saru dengan mangrove lainnya membuatnya rentan dibabat karena tidak sengaja atau ketidaktahuan. 

Spesies mangrove ini sendiri teridentifikasi pada lima lokasi di Indonesia, yakni Sungai Tajib di Pulau Laut, Kalimantan Selatan; Lampia di Luwu, Sulawesi Selatan; Moleo di Gorontalo; Tolongano di Donggala, Sulawesi Tengah; dan Malili di Sulawesi Selatan. 

SHARE