Cara “Ngobrol” Paus Sperma Sangat Mirip Bahasa Manusia
Penulis : Kennial Laia
Spesies
Minggu, 19 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Dari permukaan, kita tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan dengan paus sperma–hewan raksasa penghuni laut yang memiliki nenek moyang yang sama dengan manusia lebih dari 90 juta tahun yang lalu. Namun para peneliti menemukan bahwa komunikasi suara paus sangat mirip dengan komunikasi kita.
Paus sperma (Physeter macrocephalus) tidak hanya memiliki bentuk “abjad” dan vokal dalam vokalisasinya, tetapi struktur vokal ini berperilaku sama seperti ucapan manusia, demikian temuan studi baru.
Paus sperma berkomunikasi melalui serangkaian klik singkat yang disebut codas. Analisis terhadap klik ini menunjukkan bahwa paus dapat membedakan vokal melalui klik pendek atau memanjang atau melalui nada naik atau turun, menggunakan pola yang mirip dengan bahasa seperti Mandarin, Latin, dan Slovenia.
Struktur komunikasi paus memiliki “kesamaan yang erat dalam fonetik dan fonologi bahasa manusia, yang menunjukkan evolusi independen”, tulis para peneliti dalam makalah yang diterbitkan dalam Proceedings B Journal. Vokalisasi koda paus sperma “sangat kompleks dan mewakili salah satu kesamaan terdekat dengan fonologi manusia dibandingkan sistem komunikasi hewan yang dianalisis”, tambahnya.
Temuan tersebut merupakan penemuan terbaru tentang kehidupan paus sperma oleh Project Cetacean Translation Initiative (CETI), sebuah organisasi yang mempelajari paus di lepas pantai Dominika dalam upaya mencari tahu cara komunikasi mamalia tersebut. Bulan lalu, proyek ini merilis video paus sperma melahirkan sementara paus lain mendukungnya.
Hingga 1950-an, para ilmuwan belum mengetahui dengan jelas apakah paus sperma bisa bersuara. Namun teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan, membantu mengungkap bahasa makhluk ini–yang memiliki kemiripan tak terduga dengan ucapan manusia.
“Saya pikir ini adalah momen yang merendahkan hati karena kita bukan satu-satunya spesies yang memiliki kehidupan yang kaya, komunikatif, komunal, dan berbudaya,” kata David Gruber, pendiri dan presiden Project CETI, Rabu, 15 April 2026.
“Paus-paus ini dapat meneruskan informasi dari generasi ke generasi selama lebih dari 20 juta tahun. Manusia kini memiliki alat yang tepat dan keinginan untuk dapat melihat suara paus dengan cara ini untuk melihat kompleksitas yang ada selama ini,” kata Gruber.
Mempelajari paus sperma bisa menjadi sebuah tantangan. Mereka menyelam jauh di bawah air hingga 50 menit untuk mencari cumi-cumi untuk dimakan, dan hanya muncul ke permukaan selama 10 menit setiap kalinya. Tapi di dekat permukaan itulah hewan-hewan “ngobrol”, dengan kepala berdekatan.
“Jika Anda melihat paus sperma, mereka saling menempelkan kepala satu sama lain,” ujar Gruber. "Ini seperti jika Anda ingin berbicara dengan seseorang tentang novel terkenal atau semacamnya–Anda tidak ingin melakukannya dari ujung stadion sepak bola. Anda ingin berada sangat dekat untuk melakukan percakapan yang sangat canggih."
Percakapan paus sperma itu, di telinga kita, terdengar seperti kode morse staccato, menurut para peneliti. Namun dengan menghilangkan kesenjangan di antara bunyi klik, peneliti dapat menemukan pola yang sangat mirip dengan ucapan manusia. Sama seperti cara kita mengubah pita suara untuk mengubah bunyi “A” menjadi bunyi “E”, paus dapat memanipulasi bunyi vokal menjadi arti yang berbeda.
Gašper Beguš, ahli bahasa di University of California, Berkeley yang memimpin makalah baru ini, mengatakan bahwa tingkat kompleksitas ucapan paus sperma ini melebihi apa yang pernah ia pelajari pada makhluk lain, seperti burung beo dan gajah, dan menyoroti persamaan antara kehidupan manusia dan paus.
“Mereka mempunyai kehidupan yang sangat berbeda dengan kita – mereka tidak hidup di daratan, mereka mengapung di air, mereka pun tidur secara vertikal,” kata Beguš.
"Namun Anda menyadari bahwa ada banyak hal yang menyatukan kita. Mereka punya nenek, mereka mengasuh bayi satu sama lain, mereka melahirkan secara kolaboratif, mereka bersuara keras saat melahirkan, dan sebagainya. Ini adalah kecerdasan yang sangat jauh, namun dalam banyak hal sangat bisa diterima," ujarnya.
Penemuan terbaru seputar kemampuan bicara paus sperma ini meningkatkan kemungkinan suatu hari nanti kita dapat memahami sepenuhnya apa yang dikatakan makhluk tersebut satu sama lain, dan bahkan berkomunikasi dengan mereka. Project CETI telah menetapkan tujuan untuk dapat memahami 20 ekspresi vokal hewan tersebut, berkaitan dengan tindakan seperti menyelam dan tidur, dalam lima tahun ke depan.
Sebenarnya kemampuan untuk sepenuhnya memahami apa yang dikatakan paus, atau mampu berkomunikasi dengan mereka, masih merupakan sebuah proposisi jangka panjang, kata Gruber, namun bukan sebuah hal yang aneh.
“Itu sepenuhnya dalam jangkauan kami,” katanya. "Kami telah melangkah lebih jauh dari yang saya kira. Namun hal ini memerlukan waktu dan dana. Saat ini kami seperti anak berusia dua tahun, hanya mengucapkan beberapa patah kata. Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin kami akan menjadi seperti anak berusia lima tahun," katanya.
SHARE

Share

