3 Spesies Baru Ini Ditemukan di Pedagang Tanaman Hias

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Biodiversitas

Sabtu, 18 April 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim dari Herbarium Bandungense, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) berhasil mengungkap tiga spesies baru tumbuhan aroid dari genus Homalomena yang berasal dari Sumatera. Ketiga spesies itu diberi nama ilmiah Homalomena pachyderma A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri, Homalomena pulopadangensis A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri, dan Homalomena uncinata A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Telopea Volume 30 tahun 2026.

Penemuan ini dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Muhammad Rifqi Hariri bersama Arifin Surya Dwipa Irsyam. Uniknya, ketiga spesies ini pertama kali menarik perhatian ilmiah melalui perdagangan tanaman hias yang tersebar di media sosial, sebelum kemudian dikaji lebih lanjut secara ilmiah. 

Dalam publikasinya, peneliti menjelaskan bahwa spesimen tanaman yang awalnya dibagikan oleh kolektor dan pehobi di platform digital menunjukkan ciri morfologi yang tidak biasa dan belum teridentifikasi. Hal ini mendorong dilakukannya kajian taksonomi secara mendalam melalui pengamatan morfologi, yang kemudian memastikan bahwa ketiganya merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan. 

Muhammad Rifqi Hariri menjelaskan bahwa temuan ini menunjukkan peran penting media sosial dalam mendukung penemuan biodiversitas. “Platform digital kini menjadi salah satu pintu masuk awal untuk mengenali potensi spesies baru, terutama dari tanaman hias yang beredar di kalangan kolektor,” ujarnya, dalam sebuah keterangan tertulis, pada Senin (13/4/2026).

Homalomena pachyderma, salah satu dari tiga spesies baru genus Homalomena yang ditemukan lewat perdagangan tanaman hias. Sumber: Jurnal Telopea (2026).

Ketiga spesies yang ditemukan memiliki karakter morfologi yang khas dan berbeda dari spesies Homalomena lainnya di Sumatera. Homalomena pachyderma memiliki daun tebal dengan permukaan atas daun berpapila, Homalomena pulopadangensis dicirikan oleh bentuk daun sempit dengan genicula yang lebih tebal dan staminodia claviform, sementara Homalomena uncinata memiliki rambut berbentuk kait yang unik di permukaan atas daunnya. Perbedaan ini menjadi dasar utama dalam penetapan statusnya sebagai spesies baru. 

Penelitian juga menunjukkan bahwa ketiga spesies tersebut berasal dari wilayah Sumatra Utara dan diduga memiliki sebaran terbatas, sehingga berpotensi bersifat endemik. Spesimen yang diteliti sebagian besar berasal dari tanaman hasil budidaya yang dikoleksi dari alam dan kemudian dipelihara di pembibitan sebelum dikaji lebih lanjut. Bahkan, spesimen Homalomena uncinata telah beredar hingga ke Jepang sejak 9 tahun yang lalu meskipun alur perolehan dan legalitasnya belum jelas.

Homalomena pulopadangensis, salah satu dari tiga spesies baru genus Homalomena yang ditemukan lewat perdagangan tanaman hias. Sumber: Jurnal Telopea (2026).

Homalomena uncinata, salah satu dari tiga spesies baru genus Homalomena yang ditemukan lewat perdagangan tanaman hias. Sumber: Jurnal Telopea (2026).

Temuan ini menegaskan bahwa koleksi tanaman di pembibitan serta keterlibatan komunitas pehobi memiliki kontribusi penting dalam mengungkap keanekaragaman hayati yang belum terdokumentasi. Selain itu, hasil penelitian ini semakin memperkuat posisi Sumatra sebagai salah satu pusat keanekaragaman genus Homalomena di kawasan Malesia. 

Tim peneliti BRIN akan terus melakukan kajian taksonomi dan eksplorasi biodiversitas tumbuhan Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Telopea Volume 30, halaman 35–42 (2026) dengan judul Taxonomic contributions to the genus Homalomena (Araceae) in Western Malesia: three new species from Sumatra discovered through the ornamental plant trade. Artikel ilmiah dapat diakses melalui tautan https://doi.org/10.7751/telopea21461.

SHARE