Bom Waktu dari 28 Ribu Ha Deforestasi di Lahan Gambut
Penulis : Raden Ariyo Wicaksono
Gambut
Jumat, 10 April 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Deforestasi di Indonesia pada 2025, tak hanya terjadi di lahan mineral saja, tetapi juga terjadi di lahan bergambut. Luasannya cukup besar, setara 6 kali lipat luas wilayah Kota Madya Jakarta Pusat. Demikian menurut temuan Auriga Nusantara, dalam Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025.
Deforestasi di lahan bergambut ini berimplikasi besar, ia bisa menciptakan "bom waktu" ekologis, terutama bila dikombinasikan dengan Super El Nino yang diprediksi akan melanda wilayah Indonesia. Bom waktu dimaksud adalah potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan analisis Auriga Nusantara, sebagian besar deforestasi yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu memang terjadi di lahan mineral. Namun terdapat sebagian kecil deforestasi yang juga terjadi di lahan bergambut. Luasnya sekitar 28.889 hektare atau 6,6 persen dari total luas deforestasi di Indonesia yang mencapai 433.751 hektare.
Deforestasi pada lahan bergambut di Indonesia ini teridentifikasi terjadi di 21 provinsi. Bila diperingkatkan berdasarkan luasannya, maka Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Aceh dan Kalimantan Utara, menjadi yang tertinggi. Masing-masing luasnya 8.559 hektare, 6.686 hektare, 4.669 hektare, 2.511 hektare, dan 1.550 hektare.
Kemudian, bila dilihat berdasarkan fungsi ekosistemnya, dari angka 28.889 hektare tersebut, sekitar 13.977 hektare di antaranya berada di kawasan Fungsi Lindung Ekosistem Gambut (FLEG), dan sisanya seluas 14.912 hektare lainnya berada di kawasan Fungsi Budidaya Ekosistem Gambut (FBEG).
Deforestasi pada ekosistem gambut ini, khususnya pada gambut fungsi lindung, menarik perhatian para pemerhati lingkungan. Pengkampanye Pantau Gambut, Putra Septian, mengatakan FLEG adalah gambut dengan karakteristik tertentu yang memiliki fungsi dalam perlindungan dan keseimbangan tata air, penyimpan cadangan karbon, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Biasanya gambut pada FLEG memiliki kedalaman lebih dari tiga meter.
“Pemanfaatan pada ekosistem gambut dengan fungsi lindung sangat terbatas. Hanya dapat dilakukan pemanfaatan untuk kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan/atau jasa lingkungan. Dengan kata lain, aktivitas deforestasi sangat diharamkan terjadi di gambut fungsi lindung,” katanya, pada Rabu (9/4/2026).
Baik FLEG maupun FBEG, imbuh Putra, dapat ditemukan dalam satu Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). KHG merupakan ekosistem gambut yang pada umumnya terletak di antara dua sungai, di antara sungai dengan laut atau rawa-rawa. Pengelolaan lahan dalam satu KHG ini akan saling memengaruhi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Ia menjelaskan, pengelolaan lahan dalam satu Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) akan saling memengaruhi antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Apabila dalam FBEG dilakukan pengelolaan lahan yang tidak ramah gambut maka akan menyebabkan FLEG ikut rusak.
“Sehingga pengelolaan lahan gambut harus dilakukan saling terintegrasi dan berbasis lanskap,“ ujar Putra.
Putra mengingatkan, aktivitas yang menyebabkan perusakan gambut, termasuk deforestasi, sangat berpotensi menyebabkan lapisan pirit yang ada di bawah gambut terpapar udara dan teroksidasi. Konsekuensinya menjadi berbahaya, karena oksidasi pirit dapat menghasilkan karatan-karatan jarosit yang berwarna kuning pucat di dalam penampang tanah dan sering disebut sebagai cat clay atau pada genangan air yang bersifat racun.
“Oksidasi pirit dapat menghasilkan kemasaman lebih rendah lagi, jika proses oksidasi pirit tersebut menghasilkan Fe2+, yang dapat menyebabkan biota perairan mati dan terganggu. Dan masih banyak lagi dampak negatif pirit pada kesehatan manusia, tanaman dan lingkungan,” katanya.
Putra menuturkan, ekosistem gambut yang sudah terlanjur rusak, akan sangat sulit dipulihkan. Gambut adalah bahan organik yang tidak terdekomposisi secara sempurna karena terdapat pada kondisi anaerob (kedap udara). Proses dekomposisi yang terjadi dengan sangat lambat, membuat bahan organik menumpuk sehingga terbentuk lapisan gambut.
Deforestasi di KHG sangat berimplikasi pada gambut
Dari kaca mata saintis, Guru Besar IPB University, Bambang Hero Saharjo, melihat hilangnya kanopi hutan (vegetasi penutup) di KHG memiliki dampak yang devastatif tidak hanya pada permukaan, tetapi juga pada struktur dan keseluruhan ekosistem di dalam tanah gambut. Dalam ekosistem gambut yang sehat, kanopi hutan berperan sebagai "parasol" raksasa dan "pompa air" alami.
“Ketika kanopi ini hilang akibat deforestasi, terjadi reaksi berantai yang merusak gambut dari atas hingga ke bawah,” katanya, pada Kamis (9/4/2026).
Lebih lanjut, pakar forensik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini menguraikan, tanpa kanopi yang menahan sinar matahari langsung, permukaan gambut langsung terpapar radiasi panas. Suhu permukaan tanah bisa meningkat drastis, bisa mencapai 40-50°C atau lebih pada siang hari. Kondisi ini membuat lapisan atas gambut menjadi sangat kering, gersang, dan mudah retak.
Panas matahari yang langsung mengenai tanah menyebabkan kadar air di permukaan menguap dengan sangat cepat. Ini menurunkan Muka Air Tanah (MAT) secara drastis. Akibatnya, gambut yang semula basah dan lembab menjadi kering, yang merupakan syarat utama terjadinya kebakaran lahan.
Bambang Hero bilang, kanopi hutan biasanya memperlambat kecepatan angin yang menyentuh tanah. Tanpa kanopi, angin kering (terutama saat El Nino) akan meniup serasah dan lapisan gambut atas yang sudah kering, serta mencuci nutrisi sedikit yang ada di permukaan saat hujan turun.
“Ini adalah dampak paling merusak secara jangka panjang. Dalam kondisi alami, gambut di dalam tanah terendam air (anaerob), sehingga proses pelapukan berjalan sangat lambat. Ketika kanopi hilang dan MAT turun, lapisan gambut di dalam tanah menjadi terpapar udara (aerob). Bakteri pengurai mulai bekerja agresif memecah materi organik gambut. Proses ini disebut oksidasi,” ujar Bambang Hero.
Kanal gambut yang dibangun oleh PT Mayawana Persada untuk menguras air di hutan lahan gambut. Foto: Auriga Nusantara.
Konsekuensinya, sambung Bambang Hero, gambut menjadi "dimakan" oleh bakteri, sehingga volume tanah berkurang. Akibat oksidasi di atas dan pemadatan (kompaksi) fisik akibat kehilangan struktur akar, tanah gambut di dalam akan menyusut. Muka tanah akan turun secara permanen.
Penurunan ini bisa mencapai 5 cm hingga 10 cm per tahun pada lahan yang terbuka/dikelola, dibandingkan hanya beberapa milimeter di hutan alami. Lama-kelamaan, lahan akan tenggelam di bawah permukaan air laut atau sungai di sekitarnya.
“Pohon-pohon di hutan gambut memiliki akar serabut yang padat yang membantu menjaga agregat (butiran) tanah tetap menyatu. Saat pohon ditebang, akar-akar ini mati dan membusuk. Kehilangan jaringan akar ini membuat struktur tanah menjadi longgar dan mudah hanyut terbawa air, terutama saat terjadi hujan lebat setelah fase kering,” ujar Bambang Hero.
Lebih lanjut Bambang Hero menuturkan, paparan oksigen yang berlebihan mengubah pH tanah. Gambut yang semula asam dan stabil bisa berubah menjadi lebih masam atau beracun bagi tanaman tertentu karena pelepasan asam-asam organik dan mineral besi yang terjebak dalam tanah.
Bambang Hero menyimpulkan, hilangnya kanopi hutan mengubah lahan gambut dari sistem penyimpan karbon dan air menjadi sistem pemicu emisi dan bencana. Permukaannya menjadi gudang bahan bakar, sedangkan isinya perlahan membusuk dan hilang (subsiden), sehingga lahan tersebut pada akhirnya akan tidak bisa lagi berfungsi sebagai lahan basah maupun lahan pertanian yang produktif.
Deforestasi pada lahan bergambut ciptakan bom waktu
Bambang Hero menyebut, kombinasi antara deforestasi pada ekosistem lahan gambut dan fenomena El Nino berintensitas kuat (El-Nino Godzila) menciptakan "bom waktu" ekologis di Indonesia. Dua faktor ini saling memperkuat yang mengakibatkan dampak sangat buruk bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi.
“Ledakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif Ini adalah dampak langsung dan paling merusak,” katanya.
Ia menjelaskan, El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan dan memanjangnya musim kemarau. Akibatnya, permukaan tanah menjadi sangat kering. Sementara itu, deforestasi (terutama untuk pembukaan perkebunan sawit atau hutan tanaman industri) membuat kanopi hutan yang sebelumnya menahan panas dan kelembapan hilang.
Gambut memiliki sifat unik seperti "spons". Dalam kondisi alami (basah), ia menyimpan karbon dalam jumlah besar. Namun, setelah ditebang dan dikeringkan (drainase), gambut menjadi sangat mudah terbakar. Saat El Nino melanda, kadar air turun drastis, sehingga api tidak hanya membakar semak, tetapi juga membakar tanah gambut itu sendiri hingga ke lapisan bawah.
“Akibatnya, api menjadi sulit dipadamkan karena membakar di bawah permukaan (underground fire), menghasilkan asap pekat yang menyebar luas. Indonesia sering disebut sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia saat terjadi El Nino kuat karena hal ini,” katanya.
Lebih lanjut Bambang Hero mengungkapkan, lahan gambut menyimpan cadangan karbon lebih banyak per hektare dibandingkan hutan hujan tropis biasa. Ketika deforestasi mengeringkan gambut dan El Nino memicu kebakaran, karbon yang tersimpan selama berabad-abad dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Hal ini memperparah pemanasan global dan perubahan iklim, menciptakan siklus umpan balik (feedback loop) di mana pemanasan global memicu cuaca ekstrem yang lebih sering.
Selain itu, kebakaran gambut menghasilkan asap yang sangat tebal dan mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida (CO), dan bahan karsinogenik lainnya. Saat El Nino, angin biasanya kering dan stabil, membuat asap tidak mudah tersebar dan menggenangi daerah yang luas (baik lokal maupun lintas negara tetangga). Ini menyebabkan lonjakan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), iritasi mata, penyakit jantung, dan kematian dini pada kelompok rentan (lansia dan anak-anak).
“Kabut asap tebal akibat kebakaran gambut menurunkan jarak pandang drastis, memaksa penutupan bandara dan pembatalan ratusan penerbangan,” ujar Bambang Hero.
Hamparan lahan terbuka bekas penebangan hutan alam di konsesi PT Borneo International Anugerah, di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, didokumenasikan pada Juni 2025. Foto: Auriga Nusantara.
Bambang Hero menguraikan, dalam beberapa kasus, deforestasi terjadi dengan diikuti oleh pembuatan saluran drainase (kanal). Itu dilakukan untuk menurunkan MAT, agar bisa ditanami kemudian. Saat El Nino datang, pengeringan menjadi ekstrem. Gambut yang mengering akan menyusut dan mengalami oksidasi.
Kemudian, tanah gambut yang menyusut akan lebih rendah dari permukaan laut. Saat musim hujan kembali tiba setelah El Nino berlalu, lahan ini akan mudah tergenang air atau bahkan tenggelam selamanya (abadi), menyebabkan gagal panen dan hilangnya fungsi lahan pertanian jangka panjang.
“Meskipun tanaman kering karena kekeringan El Nino, seringkali petani atau perusahaan mencoba membakar lahan untuk menanam ulang. Namun, api yang tidak terkendali justru menghanguskan tanaman yang sudah ada,” katanya.
Bila demikian yang terjadi, sambung Bambang Hero, pemerintah harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk pemadaman api (water bombing, pendinginan, dan penanganan kesehatan), jauh melebihi nilai ekonomis dari lahan yang dibuka.
Dampak berantai lainnya dari deforestasi yang disusul kebakaran pada lahan gambut akan mengakibatkan hancurnya habitat satwa endemik lahan gambut, seperti orangutan kalimantan, harimau sumatera, dan beruang madu. Saat El Nino, sumber air dan makanan alami mereka menyusut, membuat mereka terdesak masuk ke permukiman warga, meningkatkan konflik antara manusia dan satwa liar yang sering berujung pada kematian satwa tersebut.
Bila ditarik kesimpulan, deforestasi pada lahan gambut akan menghilangkan "tameng" alami (vegetasi dan kelembapan), sementara El Nino memberikan "percikan api" (kekeringan ekstrem). Bambang Hero berpendapat, tanpa kebijakan yang tegas untuk menjaga hidrologi gambut (membasahi kembali gambut/rewetting) dan moratorium pembukaan lahan baru, setiap puncak musim kemarau atau El Nino akan selalu diiringi oleh bencana asap dan kerugian lingkungan yang tidak dapat diperbaiki dalam waktu singkat.
SHARE

Share

