Semakin Banyak Negara Hadapi Krisis Pangan Jika Suhu Capai 2C
Penulis : Kennial Laia
Krisis Iklim
Selasa, 31 Maret 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Jumlah negara yang mengalami kerawanan pangan kritis bisa meningkat tiga kali lipat menjadi 24 negara jika suhu global meningkat sebesar 2 derajat Celcius, menurut sebuah penelitian terbaru.
Analisis yang dilakukan oleh Institut Internasional untuk Lingkungan dan Pembangunan (IIED) menunjukkan, krisis iklim akan berdampak besar pada sistem pangan di negara-negara miskin, sehingga memperlebar kesenjangan antara negara-negara yang paling rentan dan paling tidak rentan.
Meskipun pemanasan global akan meningkatkan risiko kerawanan pangan di seluruh dunia, sistem pangan di negara-negara berpendapatan rendah diperkirakan akan memburuk tujuh kali lebih cepat dibandingkan di negara-negara kaya.
“Negara-negara yang sudah menghadapi kemiskinan, kerapuhan, dan terbatasnya jaring pengaman pangan diperkirakan akan mengalami kemerosotan paling cepat dalam sistem pangan, meskipun mereka berkontribusi paling kecil terhadap emisi global,” kata peneliti IIED dan penulis studi, Ritu Bharadwaj, Senin, 23 Maret 2026.
“Saat ini, hampir 59% populasi dunia tinggal di negara-negara dengan ketahanan pangan di bawah rata-rata, dan proyeksi kami menunjukkan bahwa perubahan iklim kemungkinan akan memperlebar kesenjangan ini,” katanya.
Menurut Bharadwaj hal ini dapat dicegah dengan beberapa upaya. Diantaranya, memperkuat sistem perlindungan sosial yang dapat merespons guncangan iklim dengan cepat, berinvestasi pada pertanian yang berketahanan iklim, dan meningkatkan pengelolaan air dan tanah.
"Sistem pangan saat ini sangat saling berhubungan. Guncangan iklim di satu wilayah penghasil pangan utama dapat berdampak pada rantai pasokan global dan memicu ketidakstabilan harga di tempat lain. Sekalipun negara-negara berpendapatan tinggi relatif masih memiliki ketahanan pangan, negara-negara tersebut tidak akan terisolasi dari dampak ketidakstabilan iklim terhadap pasar pangan global," ujarnya.
IIED mengembangkan Indeks Ketahanan Pangan untuk 162 negara. Laporan ini mengukur kerentanan sistematis seluruh sistem pangan suatu negara dan memperkirakan dampak kerusakan iklim dalam tiga skenario: jika suhu global meningkat sebesar 1,5C, 2C, dan 4C di atas suhu pada masa pra-industri.
Indeks ini juga menilai dampak krisis iklim terhadap empat “pilar” sistem pangan – ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan dan keberlanjutan – dan menunjukkan bahwa risiko tersebut tidak tersebar secara merata di empat pilar tersebut.
Keberlanjutan dan pemanfaatan merupakan pilar yang paling sensitif terhadap iklim, yang berarti tanda-tanda awal kerusakan iklim akan muncul pertama kali pada sistem air, sanitasi, dan kesehatan, sehingga menyebabkan orang mengalami kekurangan gizi meskipun makanan tersedia secara fisik. Peningkatan risiko iklim juga akan dikaitkan dengan berkurangnya akses terhadap pangan, kenaikan harga, dan gangguan pasar.
Di antara negara-negara yang terkena dampak paling parah adalah negara-negara seperti Somalia, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Haiti, dan Mozambik. Berdasarkan skenario pemanasan 2C, analisis memproyeksikan bahwa kerawanan pangan akan meningkat lebih dari 30% di negara-negara tersebut, yang akan menyebabkan krisis akut dan kelaparan, sementara di negara-negara berpendapatan tinggi akan meningkat rata-rata sebesar 3%.
Di negara-negara berpendapatan rendah, kerawanan pangan diperkirakan meningkat rata-rata sebesar 22%, berdasarkan skenario 2C. Negara-negara berpendapatan rendah bertanggung jawab atas 1% emisi global, sedangkan negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah ke atas menyumbang lebih dari 80%.
“Negara-negara berpendapatan tinggi juga akan mengalami guncangan pertanian besar-besaran, namun mereka memiliki kekayaan yang mampu membeli jalan keluar dari kegagalan panen domestik di pasar global,” kata Bharadwaj.
"Jika negara-negara rentan dan terkena dampak konflik menghadapi keruntuhan sistemik, akibatnya adalah ketidakstabilan global yang besar, keruntuhan negara, dan migrasi paksa. Ini adalah ancaman keamanan nasional yang telah diperingatkan oleh para kepala pertahanan," katanya.
SHARE

Share

