Perempuan dan Anak Tanggung Beban Terbesar Krisis Air Global

Penulis : Kennial Laia

Krisis Iklim

Sabtu, 21 Maret 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Perempuan dan anak perempuan menanggung beban terberat akibat kekurangan air dan sanitasi di seluruh dunia, sehingga menghambat pembangunan ekonomi dan sosial di negara-negara miskin, demikian peringatan terbaru dari PBB.

Di negara berkembang, perempuan bertanggung jawab mengumpulkan air di lebih dari 70% rumah tangga pedesaan yang tidak memiliki akses terhadap air utama. Perempuan dan anak perempuan secara kolektif menghabiskan 250 juta jam sehari untuk mengumpulkan air secara global.

Krisis iklim memperburuk masalah ini, menurut laporan baru dari PBB. Kenaikan suhu sebesar 1C mengurangi pendapatan rumah tangga yang dikepalai perempuan sebesar 34% lebih besar dibandingkan rumah tangga yang dikepalai laki-laki, dan juga menyebabkan jam kerja mingguan perempuan meningkat rata-rata 55 menit dibandingkan laki-laki.

PBB telah meminta negara-negara untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, yang menyebabkan buruknya kesehatan dan prospek pendidikan bagi perempuan, serta berdampak pada ketahanan pangan. 

Seorang anak perempuan membawa jeriken berisi air dari air mancur, yang berlokasi jauh dari rumahnya di Letefoho, Hatugau, Ermera, Timor Leste. Dok. UNICEF/Bernadino Soares

"Memastikan partisipasi perempuan dalam pengelolaan dan tata kelola air adalah pendorong utama kemajuan dan pembangunan berkelanjutan. Kita harus meningkatkan upaya untuk menjaga akses perempuan dan anak perempuan terhadap air. Ketika perempuan memiliki akses yang sama terhadap air, semua orang mendapat manfaatnya," kata Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany, Kamis, 19 Maret 2026. 

Laporan World Water Development dari UNESCO tersebut menemukan, data mengenai perempuan dan anak perempuan sulit didapat, karena banyak negara dan lembaga internasional tidak mengumpulkan statistik yang dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin. 

Namun para penulis mengatakan jelas bahwa perempuan sangat dirugikan dalam hal akses terhadap air untuk kesehatan, memasak, sanitasi dan pertanian, dan bahwa negara-negara bergerak terlalu lambat untuk mengatasi permasalahan ini.

“Kita membutuhkan perempuan dan laki-laki untuk mengelola air secara berdampingan sebagai barang umum yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat,” kata Ketua UN-Water Alvaro Lario.  

Sanitasi yang buruk berdampak besar terhadap perempuan, dengan sekitar 10 juta remaja perempuan di 40 negara berpenghasilan rendah yang disurvei dalam sebuah penelitian tidak bersekolah, bekerja, atau melakukan aktivitas sosial karena kurangnya toilet antara tahun 2016 dan 2022. Pada 2024, tahun terakhir tersedianya data, lebih dari 2,1 miliar orang kekurangan air minum yang dikelola dengan aman dan 3,4 miliar orang kekurangan sanitasi yang dikelola dengan aman.

Perempuan juga kurang terwakili dalam pengambilan keputusan mengenai hak atas air terkait dengan lahan pertanian, yang seringkali dikaitkan dengan hak milik. Perempuan mengalami diskriminasi dalam hak kepemilikan lahan di banyak negara, dimana laki-laki mengambil alih kepemilikan lahan sebanyak dua kali lipat.

Satu dari lima orang yang bekerja di perusahaan penyedia air minum adalah perempuan, demikian temuan survei terpisah di 28 negara berkembang.

Helen Hamilton, kepala kebijakan kesehatan masyarakat di badan amal WaterAid mengatakan, buruknya akses terhadap air dan sanitasi di klinik berarti perempuan meninggal secara tidak perlu saat melahirkan, dan perempuan terkena kekerasan berbasis gender ketika harus berjalan jauh untuk mengambil air. 

“Laporan hari ini memperlihatkan ketidakadilan yang nyata: perempuan dan anak perempuan menanggung beban terberat dari krisis air global,” katanya. 

“Air bersih, toilet yang layak, dan kebersihan yang baik bukanlah sebuah kemewahan: mereka adalah fondasi kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi,” ujar Hamilton. 

Ketika masalah-masalah yang dihadapi perempuan diakui, seluruh komunitas bisa mendapatkan manfaatnya, menurut badan amal World Vision. Organisasi tersebut mengebor sumur di Rumate, di pedesaan Kenya, di mana perempuan harus berjalan kaki hingga empat jam sehari untuk mengambil air. Perempuan membantu mengebor sumur dan membangun jalan, serta membentuk kelompok tabungan, membentuk komite air, dan memulai usaha kecil-kecilan. Anak-anak mereka menjadi lebih sehat – tidak lagi menderita malnutrisi akibat air yang tidak aman – dan para ibu dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.

"Norma-norma sosial yang merugikan sering kali tidak menghargai waktu dan upaya yang dilakukan perempuan dalam mengamankan air dan mengecualikan mereka dari pengambilan keputusan,” kata Direktur Global Bidang Air World Vision, Parvin Ngala. 

“Konsekuensi ekonominya nyata: peluang perempuan untuk mendapatkan penghasilan hampir mustahil," ujarnya. 

SHARE