Biodiversitas Teluk Persia Terancam Perang Iran vs AS-Israel
Penulis : Aryo Bhawono
Biodiversitas
Rabu, 18 Maret 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Perang Iran turut mengancam biodiversitas di Teluk Persia, dari kura-kura, dugong, hingga kawanan burung. Mereka terancam oleh ceceran minyak dan bom.
Ekosistem Teluk Persia sendiri berada di tengah tekanan krisis iklim dan perlintasan transportasi laut. Tekanan ini meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan kepada Iran pada Februari 2026 lalu.
Pada 10 Maret 20206 lalu, Conflict and Environment Observatory, sebuah organisasi non-pemerintah berbasis di Inggris menyebutkan lebih dari 300 insiden yang melibatkan risiko lingkungan—termasuk serangan terhadap kapal tanker minyak—telah tercatat di wilayah tersebut sejak konflik pecah.
Kondisi geografi teluk itu pun cukup rentan. Perairan semi-tertutup dan dangkal dengan kedalaman rata-rata sekitar 50 meter, terhubung ke Samudra Hindia melalui Selat Hormuz. Pergantian air di sana lambat, setiap dua hingga lima tahun, sehingga membatasi penyebaran minyak atau polutan lainnya.
Wilayah ini menjadi rumah bagi populasi dugong terbesar kedua di dunia, mamalia laut herbivora yang terdaftar dengan status vulnerable di IUCN, dengan perkiraan 5.000 hingga 7.500 individu.
Sekitar selusin spesies mamalia laut juga ditemukan di sana, termasuk paus bungkuk dan hiu paus.
Secara total, lebih dari 2.000 spesies laut telah tercatat di perairan Teluk yang hangat, termasuk lebih dari 500 spesies ikan dan lima jenis penyu laut, di antaranya penyu sisik yang terancam punah.
Terdapat juga sekitar 100 spesies karang yang, bersama dengan hutan bakau dan padang lamun, membentuk tempat berkembang biak dan pembibitan yang penting bagi ikan dan krustasea.
Crisis Communications and International Relations Manager Greenpeace Jerman, Nina Noelle, memperingatkan pada pekan lalu bahwa puluhan kapal tanker yang membawa sekitar 21 miliar liter minyak terperangkap di Teluk Persia. Greenpeace Jerman sendiri telah memetakan kapal tanker minyak di wilayah tersebut.
"Ini adalah bom waktu ekologis yang siap meledak," kata dia seperti dikutip dari Phys.
Sejak 1 Maret 2026, sembilan insiden yang melibatkan kapal tanker minyak, termasuk serangan, telah dilaporkan ke pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), delapan di antaranya kemudian dikonfirmasi oleh Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Tiga serangan tambahan diklaim oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran, meskipun hal ini belum dikonfirmasi oleh badan-badan internasional.
Di darat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada hari Senin bahwa serangan Israel terhadap depot bahan bakar Teheran merupakan "ekosida," yang mencemari tanah dan air tanah serta menyebabkan risiko jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Kerusakan dari Perang Masa Lalu
Sementara The Confict and Environment Observatory (CEOBS), sebuah lembaga nirlaba berbasis di Inggris, menyebutkan perang pada tahun 1980-an dan 1990-an menunjukkan betapa rentannya ekosistem Teluk Persia terhadap polusi akibat konflik.
Direktur CEOBS Doug Weir menyebutkan perang Teluk tahun 1991 memicu salah satu tumpahan minyak laut terbesar yang terkait dengan konflik bersenjata, ketika pasukan Irak yang mundur dengan sengaja membuka katup minyak di Kuwait dan menghancurkan infrastruktur minyak.
“Polusi itu berupa kerusakan fasilitas minyak di darat atau lepas pantai atau melalui tumpahan akibat serangan terhadap kapal,” katanya.
Beberapa penelitian menyebutkan butuh beberapa dekade untuk memulihkan ekosistem dari polusi yang mencapai 11 juta barel minyak (1,75 miliar liter) tumpah, mencemari 640 kilometer garis pantai Saudi dan membunuh lebih dari 30.000 burung laut.
Penelitian itu pun sebagian besar menunjukkan dampak minimal pada terumbu karang.
Profesor biologi di Mubadala Arabian Center for Climate and Environmental Sciences di New York University Abu Dhabi, John Burt, mengatakan kerusakan ini sebagian besar karena minyak mengapung, sehingga penyebaran minyak tetap berada di permukaan dan tidak benar-benar berinteraksi dengan karang kecuali di daerah yang paling dangkal. Namun, hal yang sama tidak dapat dikatakan untuk sistem pasang surut seperti rawa garam dan dataran lumpur yang berjejer di sepanjang pantai dan terpapar saat air surut.
"Di sini, tumpahan minyak dapat memiliki dampak signifikan dan jangka menengah, jika tumpahan tersebut mencapai daerah pesisir," kata Burt.
Burung laut sangat berisiko karena minyak telah merusak lapisan kedap air pada bulu mereka, yang menyebabkan hipotermia dan tenggelam.
Gangguan Akustik untuk Burung
Bom juga merupakan ancaman bagi burung-burung di daerah tersebut. Migrasi mereka dapat terganggu oleh suara ledakan dan kepulan asap beracun karena Semenanjung Arab terletak di persimpangan jalur migrasi utama yang menghubungkan Eropa, Asia Tengah, Afrika, dan Asia Selatan.
"Ranjau laut dan alat peledak lainnya dapat menyebabkan gangguan akustik yang berdampak pada mamalia laut dan hewan lainnya, serta kerusakan akibat ledakan pada struktur bawah laut alami seperti terumbu karang," kata Weir.
Pada tahun 2003 dan 2020, dua studi yang diterbitkan di Nature dan di jurnal Royal Society menemukan hubungan antara penggunaan sonar militer frekuensi menengah dan terdamparnya paus.
SHARE

Share

