Jejak Emisi Karbon Dunia Terdeteksi dalam Darah Manusia
Penulis : Aryo Bhawono
Iklim
Minggu, 01 Maret 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Peningkatan kadar karbon dioksida terdeteksi dalam tubuh manusia. Temuan ini juga terdapat pada darah anak-anak dan remaja yang tubuhnya sedang berkembang dan berpotensi mengalami paparan kumulatif terlama terhadap peningkatan CO2 atmosfer.
Studi yang diterbitkan pada jurnal Springer terkait kualitas udara, atmosfer, dan kesehatan memperingatkan kadar gas tersebut dalam darah mendekati batas sehatnya dalam beberapa dekade, jika tren saat ini berlanjut. Para peneliti dari The Kids Research Institute Australia, Curtin University, dan The Australian National University (ANU) menganalisis data populasi AS selama lebih dari dua dekade dan menemukan pergeseran stabil dalam kimia darah yang secara erat mengikuti peningkatan CO2 atmosfer.
Mereka menggunakan data Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS (NHANES), dan memeriksa hasil darah dari sekitar 7.000 orang setiap dua tahun antara tahun 1999 dan 2020.
Rata-rata kadar serum bikarbonat—penanda yang terkait erat dengan karbon dioksida dalam tubuh—telah meningkat sekitar 7 persen sejak tahun 1999. Selama periode yang sama, rata-rata kadar kalsium dan fosfor telah menurun.
Perubahan ini mencerminkan peningkatan CO2 di atmosfer, yang telah meningkat dari sekitar 369 bagian per juta (ppm) pada tahun 2000 menjadi lebih dari 420 ppm saat ini.
Penulis, Profesor Madya Alexander Larcombe, mengatakan temuan tersebut menunjukkan tubuh manusia mungkin sudah mengkompensasi perubahan atmosfer.
"Yang kita lihat adalah pergeseran bertahap dalam kimia darah yang mencerminkan peningkatan karbon dioksida di atmosfer yang mendorong perubahan iklim," kata Larcombe.
Bikarbonat berperan sentral dalam menjaga keseimbangan asam-basa tubuh. Ketika kadar CO2 meningkat, tubuh menahan lebih banyak bikarbonat untuk menstabilkan pH darah. Namun seiring waktu, kompensasi yang berkelanjutan dapat membawa konsekuensi fisiologis.
"Jika tren saat ini berlanjut, pemodelan menunjukkan bahwa kadar bikarbonat rata-rata dapat mendekati batas atas kisaran sehat yang diterima saat ini dalam 50 tahun. Kadar kalsium dan fosfor juga dapat mencapai batas bawah kisaran sehatnya di akhir abad ini," ucapnya.
Manusia sendiri berevolusi di atmosfer yang mengandung sekitar 280–300 ppm CO2. Peningkatan rata-rata tahunan selama dekade terakhir sekitar 2,6 ppm per tahun, dengan tahun 2024 mencatat peningkatan 3,5 ppm.
Penulis lainnya, Dr. Phil Bierwirth, seorang ahli geologi lingkungan yang telah pensiun dan berafiliasi dengan Fakultas Emeritus ANU, mengatakan meskipun penelitian ini tidak membuktikan sebab akibat langsung, tren yang konsisten di seluruh populasi sulit untuk diabaikan.
"Saya sebenarnya berpikir bahwa apa yang kita lihat adalah karena tubuh kita tidak beradaptasi. Tampaknya kita beradaptasi dengan kisaran CO₂ di udara yang mungkin sekarang telah terlampaui," kata Bierwirth.
Menjaga kisaran normal jumlah CO2 di udara, pH darah, laju pernafasan, dan kadar bikarbonat cukup sulit.
Menurutnya kini CO2 di udara yang lebih tinggi, zat itu menumpuk di dalam tubuh. Kemungkinan manusia tidak akan pernah bisa beradaptasi sehingga sangat penting untuk membatasi kadar CO2 di atmosfer.
Penelitian ini menunjukkan dimensi baru risiko iklim, yang melampaui gelombang panas, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan laut. Variabel kesehatan masyarakat jangka panjang yang membutuhkan pemantauan berkelanjutan patut diperhitungkan.
“Kami tidak mengatakan orang akan tiba-tiba sakit ketika kita melewati ambang batas tertentu,” katanya.
Temuan para peneliti menunjukkan bahwa pengurangan emisi juga penting untuk menjaga kesehatan manusia dalam jangka panjang, dan bahwa potensi efek fisiologis dari peningkatan CO2 harus menjadi bagian dari diskusi kebijakan iklim di masa mendatang.
SHARE

Share

