Negeri Sedang Genting, Negara Sibuk dengan Genteng

Penulis : Yosep Suprayogi, PEMIMPIN REDAKSI BETAHITA.ID

EDITORIAL

Rabu, 11 Februari 2026

Editor : Raden Ariyo Wicaksono

ADA semacam komedi gelap yang sedang dipentaskan di panggung republik ini. Saat situasi ekologis kita sedang genting, pejabat negara justru sibuk mengurusi genteng.

Logikanya jungkir balik. Bayangkan seorang bapak rumah tangga yang pikun: ia mencopot atap, kusen, dan jendela rumahnya sendiri untuk dijual ke penadah. Uangnya dipakai makan-makan di halaman depan—menyebutnya sebagai "perbaikan gizi". Tetangga bertepuk tangan memuji kesejahteraan keluarga itu, padahal si bapak baru saja menggali kuburan untuk anak-anaknya, saat badai kelak datang.

Itulah potret "Ekonomi Jual Genteng" kita hari ini.

Demi memoles wajah statistik bernama Pertumbuhan Ekonomi, negara mengobral hutan, mengeruk batu bara, dan membabat karst. Angka PDB memang naik, tapi itu angka yang dicuri dari masa depan. Mereka menghitung penebangan hutan sebagai pendapatan, tapi lupa—atau pura-pura lupa—mencatat hilangnya hutan itu sebagai penyusutan aset.

Ilustrasi program gentengisasi (Ilustrator: GT)

Jika neraca negara ini jujur, dan biaya kerusakan alam (eksternalitas) dimasukkan ke dalam pembukuan, niscaya mayoritas perusahaan sawit dan tambang yang disanjung sebagai pahlawan devisa itu sebenarnya sudah lama bangkrut. Mereka terlihat untung hanya karena ongkos kerusakannya disubsidi oleh penderitaan rakyat.

Di tengah pesta "jual atap" itu, muncullah program ajaib bernama "Gentengisasi". Narasi resminya mulia: mengganti atap seng rakyat dengan tanah liat agar rumah lebih sejuk dan estetis, sejalan dengan "Gerakan Indonesia ASRI".

Ini lelucon yang pahit. Apakah ini niat baik atau selimut untuk menutupi kegagalan struktural?

Bagaimana mungkin sepotong tanah liat bakar bisa melawan neraka iklim yang sedang Anda ciptakan sendiri? Data Auriga Nusantara mencatat, spons alami Jawa tinggal 11 persen dan Sumatera sisa 20 persen. Akibatnya, bencana hidrometeorologi bukan lagi tamu tahunan, tapi penghuni tetap yang grafiknya meledak membentuk Kurva J—dari ratusan kejadian kini menjadi ribuan per tahun, hanya dalam dua dekade.

Grafik suhu bumi kini bergerak liar. Rekor panas bukan lagi merangkak naik per dekade, melainkan pecah hari demi hari. Juli lalu, suhu rata-rata global menembus 17,16 derajat Celsius, melampaui sejarah panas bumi 125.000 tahun terakhir.

Dalam fisika dasar, penyejuk bumi itu bernama pohon, bukan genteng. Secara mikroklimat, sebatang pohon dewasa adalah mesin evapotranspirasi yang bisa menurunkan suhu 2 hingga 8 derajat Celsius.

Menebang hutan ribuan hektare untuk tambang, lalu menggantinya dengan genteng tanah liat, adalah tindakan yang setara dengan mematikan AC sentral gedung pencakar langit, lalu membagikan kipas kertas lipat kepada penghuninya.

Tangan kanan negara sibuk membagikan genteng rumah, sementara tangan kirinya sibuk meneken izin yang meruntuhkan genteng alam. Kesejukan bukan datang dari tanah liat yang dibakar, melainkan dari payung raksasa bernama hutan yang baru saja mereka tebang.

Ini bukan sekadar kebijakan yang keliru; ini skizofrenia birokrasi. Negara hadir secara mikro mengurusi atap kamar tidur, tapi absen secara makro menjaga ruang hidup.

Amanat konstitusi untuk "melindungi segenap tumpah darah" telah diplesetkan. Tanah kita biarkan tumpah ke sungai, dan darah rakyat hanyut bersamanya. Di ujung cerita, saat banjir bandang setinggi atap datang menagih utang ekologis, genteng-genteng tanah liat bantuan pemerintah itu hanya akan berakhir menjadi sampah yang terkubur lumpur.

Negeri sedang genting, Tuan. Jangan hibur kami dengan genteng.

SHARE