Jumlah Orang yang Hidup dalam Panas Ekstrem bisa 2x Lipat
Penulis : Kennial Laia
Krisis Iklim
Sabtu, 31 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Jumlah orang yang hidup di bawah panas ekstrem akan meningkat dua kali lipat pada 2050 jika pemanasan global mencapai 2C, menurut sebuah studi terbaru.
Para penulis mengatakan, tidak ada wilayah yang bisa lolos dari dampak pemanasan global ini. Meskipun daerah tropis dan belahan bumi selatan akan terkena dampak terburuk dari peningkatan suhu panas, negara-negara di belahan bumi utara juga akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi karena lingkungan di negara mereka dirancang untuk menghadapi iklim yang lebih dingin.
Studi tersebut juga menunjukkan bagaimana permintaan energi untuk AC dan sistem pemanas diperkirakan akan berubah di seluruh dunia.
Makalah baru ini, yang dipublikasikan di Nature Sustainability, Senin, 26 Januari 2026, merupakan studi yang paling rinci mengenai sejauh mana dan seberapa cepat berbagai wilayah akan menghadapi suhu ekstrem seiring kenaikan pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia, dari 1 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri 10 tahun lalu, menuju 1,5 derajat Celcius dekade ini, lalu menjadi 2 derajat Celcius.
Hal ini akan mengubah pola permintaan energi untuk manajemen suhu, menurut studi tersebut. Selama beberapa dekade mendatang, tagihan pemanas di belahan bumi utara akan menurun, sementara tagihan pendinginan di belahan bumi selatan akan meningkat. Penelitian terpisah telah mengonfirmasi bahwa pada akhir abad ini, permintaan energi global dari AC akan melampaui dan jauh melampaui permintaan energi pemanas.
Dalam studi terbaru, suhu ekstrem ditentukan oleh berapa hari setiap tahunnya suhu menyimpang dari suhu dasar 18C. Dengan menggunakan model komputer, penulis kemudian memetakan di mana perubahan terbesar akan terjadi dan berapa banyak orang yang akan terkena dampaknya.
Jika ambang batas 2C dilanggar, kumpulan data baru menunjukkan jumlah orang yang mengalami panas ekstrem akan meningkat dari 1,54 miliar orang (yang merupakan 23% dari populasi dunia pada 2010) menjadi 3,79 miliar (41% dari proyeksi populasi dunia pada 2050).
Mayoritas dari mereka yang terkena dampak berada di India, Nigeria, Indonesia, Banglades, Pakistan dan Filipina. Namun peningkatan suhu berbahaya yang paling signifikan akan mengancam Republik Afrika Tengah, Nigeria, Sudan Selatan, Laos, dan Brasil.
Yang mengejutkan para penulis, model komputer ini juga menemukan bahwa perubahan terbesar akan terjadi pada awal lintasan pemanasan – mendekati fase 1,5C, yang merupakan kondisi bumi saat ini. Hal ini menambah urgensi kebutuhan untuk beradaptasi di bidang-bidang seperti layanan kesehatan, perekonomian, dan sistem energi.
“Ini adalah temuan yang sangat penting karena memberi tahu bahwa kita perlu bertindak lebih awal dalam mendukung langkah-langkah adaptasi dan mitigasi,” kata salah satu penulis, Radhika Khosla, dari Smith School of Enterprise and the Environment di Oxford University.
"Pemanasan yang melebihi 1,5C akan menimbulkan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya pada segala hal, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga migrasi dan pertanian. Pembangunan berkelanjutan net zero tetap menjadi satu-satunya cara untuk membalikkan tren ini di masa-masa panas ini. Sangat penting bagi para politisi untuk kembali mengambil inisiatif terhadap hal tersebut," katanya.
Khosla mengatakan, bahkan negara-negara utara yang relatif kaya pun akan mengalami kesulitan. "Tidak ada satu pun negara di dunia yang bisa terhindar dari panas ekstrem. Kesiapsiagaan negara-negara masih lemah," katanya.
SHARE

Share

