Auriga di DPR: Deforestasi pada 2025 Naik Dua Kali Lipat
Penulis : Kennial Laia
Deforestasi
Selasa, 27 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Angka deforestasi di Indonesia pada 2025 meningkat signifikan, termasuk di wilayah terdampak bencana Sumatra pada November 2025. Hal ini terungkap dalam data awal yang disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IV DPR bersama sejumlah organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang lingkungan hidup, Senin, 26 Januari 2026.
Ketua Yayasan Auriga Nusantara Timer Manurung mengatakan, kehilangan tutupan lahan pada 2025 dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data awal Auriga Nusantara, luas deforestasi nasional mencapai 417.000 hektare untuk periode Oktober-Desember 2025, jauh lebih tinggi dari 2024, yang mencatat kehilangan seluas 261.000 hektare.
“Peningkatannya dua kali lipat. Ini kemungkinan akan bertambah, karena kami masih dalam proses menganalisis data hingga Desember,” katanya saat menghadiri RDPU Panja Alih Fungsi Lahan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Berdasarkan data Auriga, dalam rentang Januari-Oktober 2025, tren kenaikan deforestasi ini juga terlihat pada tiga provinsi yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor November tahun lalu.
“Tiga wilayah terdampak bencana Sumatra mengalami lonjakan hampir tiga kali lipat,” kata Timer.
Aceh, misalnya, mengalami kenaikan deforestasi dari 8.962 hektare menjadi 278.000 hektare pada periode yang sama.
Pada 2024, Sumatra Barat menjadi provinsi dengan tingkat deforestasi terkecil dengan luas 6.360 hektare. Namun pada 2025, angka ini meningkat tajam menjadi 280.503 hektare.
Hal serupa terjadi di Sumatra Utara, dengan deforestasi seluas 18.150 hektare pada periode yang sama. Angka ini naik dari 7.203 hektare pada tahun sebelumnya.
“Lonjakan ini tiga kali lipat, dan kita bisa melihat dampaknya pada (bencana Sumatra),” kata Timer.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 25 Januari 2026, bencana ekologis di Pulau Sumatra tersebut mengakibatkan lebih dari 1.200 orang meninggal dunia, 142 orang hilang, dan ratusan ribu warga mengungsi.
Catatan perubahan tutupan lahan 1990-2024
Adapun tren perubahan tutupan lahan di Indonesia mengalami pergeseran signifikan selama periode 1990-2024. Menurut Timer, luas hutan alam berkurang akibat perluasan sektor industri ekstraktif seperti perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan aktivitas manusia lainnya.
Pada 1990, tutupan vegetasi alami di Indonesia mencapai 151 juta hektare. Dalam rentang 34 tahun, luas ini berkurang sebesar 30 juta hektare. Timer mencatat, 80 persen kehilangan ini merupakan hutan alam, dengan luas 23,5 juta hektare.
Sektor agrikultur pun mendominasi. Perkebunan kelapa sawit, misalnya, meningkat 1.270 persen atau 12 kali lipat dari data awal pada 1990. Yakni dari 1,3 juta hektare menjadi 17,3 juta hektare pada 2024.
Sementara itu kebun kayu seperti eukaliptus dan akasia meluas 8.400 persen menjadi 2,3 juta hektare.
Sebaliknya pertanian lainnya, seperti sawah dan kebun karet, berkurang. “Banyak pertanian dan lahan masyarakat hilang dan berganti, terutama ke kebun sawit, kebun kayu, dan pertambangan,” kata Timer.
Sementara itu permukiman bertambah sekitar 1 juta hektare.
“Yang (membesar) itu justru kegiatan perusahaan. Pertanyaannya, apakah kita mau meneruskan pola ini atau diatur agar bisa terkendali,” kata Timer.
SHARE

Share

