Film Teman Tegar Maira: Dua Sekawan Cerita Papua

Penulis : Muhammad Ikbal Asra, PAPUA

Masyarakat Adat

Kamis, 22 Januari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Satu lagi film tentang Papua. Film “Teman Tegar Maira: Whisper from Papua” ini akan tayang di bioskop mulai 5 Februari dan akan diputar di berbagai forum pendidikan. Film yang disutradarai Anggi Frisca dan diproduksi oleh Chandra Sembiring bersama Yudi Datau ini dimaksudkan untuk membawa persoalan lingkungan dan suara masyarakat adat ke ruang publik yang lebih luas. 

Produser film, Chandra Sembiring, mengatakan gagasan film ini berangkat dari pengalamannya selama bertahun-tahun bekerja di wilayah bencana dan kemanusiaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. Dengan latar belakang sebagai dokter kemanusiaan, Chandra menyebut krisis iklim sebagai persoalan global yang tak terelakkan.

“Dari bencana ke bencana, dari pedalaman ke pedalaman, saya melihat langsung bagaimana masyarakat adat memiliki resiliensi yang sering kita abaikan,” ujar Chandra saat ditemui Betahita di Jayapura, Senin, 20 Januari 2026.

Menurut Chandra, kehadiran tokoh Tegar menjadi pintu masuk bagi penonton non-Papua untuk memahami konteks sosial dan ekologis di wilayah timur Indonesia. “Kalau langsung dari sudut pandang masyarakat adat, sebagian penonton kota mungkin sulit terhubung,” katanya.

Film Teman Tegar Maira (Foto: M. Ikbal Asra)

Produksi film ini melalui proses riset dan pra-produksi panjang, sekitar dua setengah tahun. Tim produksi bolak-balik masuk ke pedalaman Papua, tinggal bersama masyarakat adat, dan membangun cerita berdasarkan temuan lapangan.

Sekitar 70 persen kru film berasal dari warga lokal Papua, dengan total lebih dari 150 orang terlibat dalam produksi. Seluruh pemeran tokoh Maira direkrut dari masyarakat setempat dan mengikuti pelatihan akting profesional selama empat bulan sebelum syuting dimulai.

“Kami tidak membawa artis nasional. Yang kami buka adalah akses bagi anak-anak Papua untuk mengekspresikan bakat seninya,” ujar Chandra. Ia menilai banyak anak di pedalaman memiliki kepekaan seni dan musikalitas tinggi meski minim akses pendidikan formal.

Unsur musik menjadi salah satu kekuatan film ini. Musik digarap oleh musisi Papua, Joanita Chatarine, yang menggabungkan ritme tradisional dengan orkestrasi sinematik untuk menghadirkan nuansa lokal yang kuat.

Sutradara Anggi Frisca mengatakan film ini lahir dari upaya mendengarkan suara hutan dan komunitas yang selama ini terpinggirkan. Menurutnya, Maira tidak hanya berbicara tentang Papua, melainkan tentang keseimbangan antara modernitas dan tradisi serta urgensi mendengarkan pengetahuan adat.

“Dalam bisikan seekor burung dan tangisan seorang anak, kita menemukan detak jantung dari hutan yang terancam. Film ini bukan hanya tentang Papua melainkan tentang keseimbangan antara modernitas dan tradisi, nilai pengetahuan adat, dan kebutuhan mendesak untuk mendengarkan sebelum semuanya terlambat,” tulis Anggi.

Ia menegaskan proses kreatif film ini dimulai dari pengalaman nyata masyarakat setempat. Sebagian besar pemeran merupakan anak-anak lokal dan anggota komunitas yang belum pernah berakting sebelumnya.

“Ini adalah kisah tentang keadilan iklim dan martabat budaya. Kisah ini mencerminkan krisis global, namun ditanamkan dalam bahasa dan tawa anak-anak,” kata Anggi.

Chandra menegaskan film ini tidak dimaksudkan untuk menggurui atau memberi pesan tunggal kepada penonton. “Kami tidak mengarahkan penonton harus berpikir apa. Biarkan mereka pulang dengan tafsir masing-masing,” ujarnya.

Film ini ditujukan terutama kepada generasi muda dan diharapkan memicu diskusi di ruang keluarga, sekolah, hingga komunitas tentang relasi manusia, hutan, dan krisis iklim. “Ini selebrasi alam Papua dan suara anak-anak Papua. Harapannya, suara itu didengungkan oleh anak muda Papua sendiri,” kata Chandra.

Sinopsis

Di tengah hutan Papua, dua anak dari latar belakang yang berbeda memulai perjalanan yang mengubah hidup mereka. Berawal dari rasa ingin tahu terhadap burung cendrawasih, perjalanan itu membawa mereka pada perjuangan mempertahankan hak-hak hutan demi masa depan.

Di tengah kabut pegunungan Papua, seorang gadis pemberani berusia 12 tahun bernama Maira berjuang menjaga hutan tempat tinggalnya. Hutan itu bukan sekadar rumah, tetapi sumber kehidupan dan warisan leluhur.

Datanglah Tegar, bocah 11 tahun dengan disabilitas fisik dari kota, yang ingin mengenal hutan Papua. Sebuah dunia yang selama ini hanya ia dengar dari cerita kakeknya.

Namun hutan itu kini terancam oleh pengusaha yang ingin menguasainya. Bersama-sama, Maira dan Tegar menghadapi ancaman tersebut dengan cara mereka sendiri.

Melalui perpaduan musik, dongeng, dan lanskap alam Papua yang menakjubkan, Maira menjadi tribut bagi persahabatan, keteguhan, dan suara alam yang kerap tak terdengar.

Respons Penonton

Monalisa Merauje, salah satu penonton, mengaku tersentuh pada adegan ketika kepala suku dan masyarakat kampung ditawari uang oleh perusahaan untuk mengambil alih lahan adat.

“Adegan itu terasa sangat dekat secara emosional karena ini bukan cuma cerita film. Banyak masyarakat adat kehilangan tanah karena ketidaktahuan dan ketimpangan kuasa, lalu dibuat seolah-olah itu kesalahan mereka sendiri,” kata Monalisa.

Ia juga menilai kekuatan tokoh Maira justru terletak pada posisi dan sikapnya sebagai anak perempuan. Menurut Monalisa, Maira digambarkan kuat bukan karena fisik atau keberanian yang berlebihan, melainkan karena keteguhan berpikir dan keberpihakannya pada nilai adat.

“Maira hidup dengan kearifan lokal. Dia melihat hutan sebagai saudara, pohon sebagai keluarga, dan alam bukan untuk dijual. Dia melawan dengan cara yang lembut, tanpa meninggalkan nilai-nilai adat,” ujarnya.

Penonton lainnya, Yustina Butu, yang datang dari Nabire, Papua Tengah, mengatakan film ini menyentuhnya sebagai perempuan muda. Ia menyoroti adegan ketika Maira memilih diam dan bertahan dalam kelelahan batin. Menurut Yustina, tanpa dialog besar, ekspresi Maira justru terasa dekat karena mencerminkan pengalaman banyak perempuan yang diajarkan untuk kuat tanpa banyak suara.

Yustina menilai kekuatan Maira bukan ditunjukkan lewat kemarahan, melainkan melalui perlawanan yang sunyi dan setia pada keyakinannya. Ia menyebut langkah Maira mengembalikan kertas pemberian perusahaan sebagai simbol keberanian kecil yang jujur dan memotivasi.

Film ini juga, kata Yustina, mengubah cara pandangnya tentang Papua. Ia menyadari bahwa Papua tidak sedang baik-baik saja bukan hanya karena hutan yang dibabat dan gunung yang dikeruk, tetapi juga konflik atas tanah yang selama ini disebut sebagai surga.

Karakter Tegar, menurutnya, mengajarkan pentingnya mendengarkan dan datang tanpa merasa paling tahu. Dari Tegar, ia belajar bahwa rasa ingin tahu dan kesediaan mendengar membuka ruang yang tak bisa dibangun dengan ego.

Sebagai perempuan muda Papua, Yustina menangkap pesan bahwa bersuara adalah tanggung jawab generasi. Jika perempuan dan anak muda memilih diam, ia mempertanyakan siapa lagi yang akan menjaga tanah sebagai ruang hidup bagi anak cucu. Ia mengajak anak muda Papua menonton film ini sebagai cermin untuk melihat diri dan tanah mereka sendiri, sekaligus dorongan untuk tidak mudah menjual tanah dan berani berdiskusi dengan keluarga tentang masa depan Papua.

SHARE