Plastik di Perut Penyu HIjau
Penulis : Aryo Bhawono
Polusi
Sabtu, 17 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Para peneliti di Jepang, menemukan tujuh dari 10 penyu hijau (Chelonia mydas) terkontaminasi plastik berukuran sedang. Temuan ini menunjukkan pencemaran plastik merupakan masalah lintas batas negara.
Temuan ini mereka ungkap melalui laporan berjudul “Multiple approaches to meso- and macroplastics and the food habitat of the green turtle, Chelonia mydas, in the Ogasawara Islands, Japan” yang dipublikasikan jurnal PeerJ. Para peneliti memeriksa pola makan dan konsumsi plastik penyu hijau yang mendiami perairan di sekitar Kepulauan Ogasawara, Jepang.
Kepulauan Ogasawara terletak sekitar 1.000 km di selatan pulau utama. Penyu hijau bermigrasi dari pantai Pasifik daratan Jepang ke Kepulauan Ogasawara untuk kawin dan bersarang.
Hasilnya, pada 7 dari 10 individu yang diteliti ternyata mengkonsumsi plastik.
Plastik ini terdeteksi di saluran pencernaan dengan rata-rata ukuran 9,2±8,5 sentimeter persegi (kisaran: 0–31 cm). Ukuran ini lebih kecil dari makro plastik yang menyumbang kontaminasi 56,5 persen semua benda, yakni ukuran 10 cm² hingga 1 m².
Temuan ini cukup mencengangkan karena sebagian plastik yang dilaporkan mengontaminasi organisme laut berukuran mikro. Penelitian sebelumnya menunjukkan meso plastik yang lebih besar (5 mm hingga lebih kecil dari 2,5 cm) dan makro plastik (2,5 cm hingga lebih dari 1 meter)
Lebih jauh temuan ini menunjukkan dampak negatif yang lebih parah pada organisme individu dan ekosistem. Keberadaan plastik ukuran sedang dan besar ini memberikan bukti lebih lanjut yang mendukung pola kontaminasi.
"Untuk memperkirakan faktor-faktor yang memengaruhi penelanan plastik dan asal plastik yang tertelan, kami mengintegrasikan analisis morfologi dan genetik isi usus dengan analisis isotop dan plastik dari sepuluh penyu hijau yang ditangkap di Kepulauan Ogasawara," tulis Profesor Seongwon Lee, salah satu peneliti.
Sumber makanan utama penyu adalah makroalga. Analisis DNA menunjukkan bahwa tempat makan dapat ditelusuri ke tiga lokasi di mana spesies rumput laut pilihan mereka (Ectocarpus crouaniorum, Sargassum muticum, dan Lobophora sp.) mendominasi. Rasio isotop stabil karbon dan nitrogen dalam jaringan otot, bersama dengan analisis DNA, lebih lanjut menunjukkan bahwa mereka mungkin telah memakan rumput laut yang hanyut dan plankton gelatin selama migrasi ke selatan menuju Kepulauan Ogasawara.
"Selama perjalanan panjang mereka ke Kepulauan Ogasawara, penyu hijau kemungkinan akan menelan dan mengakumulasi plastik yang tersebar di berbagai wilayah laut dalam berbagai bentuk, termasuk puing-puing terapung, partikel sedimen, dan benda-benda yang bercampur dengan rumput laut," jelas Prof. Lee.
Individu penyu yang ditangkap kemungkinan telah menelan meso dan makro plastik yang terkait dengan rumput laut besar dan hanyut. Mereka mengira plastik adalah plankton gelatin seperti ubur-ubur dan salpa.
Analisis karakter yang tercetak pada plastik yang tertelan menunjukkan bahwa plastik tersebut berasal dari wilayah yang melampaui jangkauan migrasi penyu. Artinya, masalah ini muncul dari polusi lintas batas.
"Studi ini menunjukkan bahwa polusi plastik adalah masalah lintas batas. Upaya untuk mengurangi polusi plastik—termasuk pengurangan produksi, penggunaan, dan pembuangan produk plastik—harus dilakukan melalui kerja sama internasional, bersamaan dengan penelitian yang berkelanjutan," ucap Profesor Lee.
SHARE

Share
