Meniru Cara Ikan Menyaring Mikroplastik
Penulis : Aryo Bhawono
Polusi
Sabtu, 10 Januari 2026
Editor : Yosep Suprayogi
BETAHITA.ID - Para ilmuwan menemukan teknologi untuk menghilangkan polutan plastik dengan meniru evolusi mulut ikan. Teknologi ini dapat menghilangkan 99 persen partikel plastik dari air.
Temuan ini dilakukan oleh para ilmuwan di Jerman setelah mereka mengamati penyaringan alami mulut ikan. Beberapa mulut ikan menyaring makanan untuk memakan mangsa mikroskopis.
Para peneliti juga telah mengajukan paten atas karyanya. Mereka berharap tiruan teknologi penyaringan ini dapat membantu mengurangi bentuk polusi plastik.
Selama ini kontaminasi plastik melalui air tak banyak disadari oleh manusia. Setiap kali mencuci pakaian, jutaan mikroplastik terlepas dari serat pakaian dan masuk ke perairan setempat.
Menurut beberapa perkiraan, hingga 90 persen plastik dalam lumpur limbah berasal dari mesin cuci. Material ini kemudian sering digunakan dalam pertanian sebagai tanah atau pupuk. Manusia yang mengkonsumsi hasil panen pun terpapar polutan ini.
Hingga kini dampak mikroplastik terhadap organ manusia, seperti tulang dan organ tubuh, belum jelas. Tetapi beberapa ahli toksikologi khawatir dengan temuan dampak mikroplastik terhadap hewan.
Penyaringan mikroplastik dari limbah cucian merupakan sebuah tantangan karena sistem filtrasi yang ada masih mudah tersumbat.
Para peneliti di Universitas Bonn dan Institut Fraunhofer untuk Teknologi Lingkungan, Keselamatan, dan Energi kemudian beralih ke alam untuk mendapatkan inspirasi. Mereka memutuskan untuk membuat sistem filtrasi air yang meniru mulut beberapa ikan, seperti makarel, sarden, dan teri.
Penelitian yang dipublikasikan Nature Partner Journals (NPJ) ini menyebutkan makhluk laut ini berenang di air dengan mulut terbuka untuk memakan plankton kecil. Selama jutaan tahun, mereka telah mengembangkan struktur seperti sisir di dalam mulut untuk menangkap mangsa mikroskopis.
"Selama pengambilan makanan, air mengalir melalui dinding corong yang permeabel, disaring, dan air bebas partikel kemudian dilepaskan kembali ke lingkungan melalui insang," ucap ahli morfologi fungsional Alexander Blanke dari Universitas Bonn.
Namun ukuran plankton terlalu besar untuk ini, mereka tertahan oleh struktur saringan alami. Berkat bentuk corongnya, plankton kemudian bergulir menuju kerongkongan, tempat ia dikumpulkan hingga ikan menelannya, yang mengosongkan dan membersihkan sistem.
Berdasarkan anatomi ini, para peneliti merancang sistem filtrasi berbentuk kerucut, dilapisi dengan permukaan seperti jaring.
Alih-alih menabrak jaring secara langsung, seperti sistem filtrasi lainnya, partikel plastik 'bergulir' di sepanjang tepi perangkat baru ini.
Model penyaringan ini memberikan area permukaan yang lebih besar untuk penyaringan saat air limbah disalurkan melalui perangkat. Partikel plastik kemudian ditangkap di luar filter dan dibuang ke kompartemen terpisah yang dapat dikosongkan setiap beberapa lusin kali pencucian, seperti filter serat pada pengering.
Tidak seperti sistem filtrasi plastik lainnya di pasaran, sistem ini mengurangi penyumbatan hingga 85 persen.
Sejak tahun 1950-an, ketika mikrofiber sintetis, seperti poliester dan nilon, pertama kali diproduksi secara massal, diprediksi ada 5,6 juta metrik ton mikrofiber sintetis telah lepas dari pakaian.
Meskipun banyak orang menyadari keberadaan plastik di dapur, pakaian terus melepaskan polutan ke lingkungan tanpa henti dan seringkali diabaikan.
Sistem penyaringan plastik berefisiensi tinggi akan sangat penting untuk mengurangi polusi di masa depan.
SHARE

Share
