2025 Jadi Satu dari Tiga Tahun Terpanas

Penulis : Aryo Bhawono

Krisis Iklim

Minggu, 04 Januari 2026

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Krisis iklim yang dipicu oleh perilaku manusia membuat tahun 2025 menjadi salah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat ilmuwan. Para ilmuwan mengidentifikasi 157 peristiwa cuaca ekstrem sebagai yang paling parah di tahun 2025.

Kenaikan suhu ini juga tercatat untuk pertama kalinya melampaui rata-rata suhu tiga tahunan atas ambang batas dalam Perjanjian Paris 2015, yang membatasi pemanasan hingga tidak lebih dari 1,5 derajat Celcius sejak zaman pra-industri. Para ahli mengatakan menjaga suhu Bumi di bawah batas tersebut dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah kerusakan lingkungan yang dahsyat di seluruh dunia.

Para peneliti World Weather Attribution (WWA) mendokumentasikan kondisi ekstrem akibat pemanasan global.

Suhu tetap tinggi meskipun La Nina melakukan pendinginan alami sesekali di perairan Samudra Pasifik. Para peneliti menyebutkan pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlanjut mengirimkan gas rumah kaca yang memanaskan planet ke atmosfer.

Kekeringan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dok BPBD NTB.

“Jika kita tidak segera, sangat, cepat, dan dalam waktu dekat menghentikan pembakaran bahan bakar fosil, akan sangat sulit untuk mencapai tujuan pemanasan global,” kata Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim Imperial College London, seperti dikutip dari Associated Press. 

Peristiwa cuaca ekstrem menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerugian miliaran dolar setiap tahunnya.

Para ilmuwan WWA mengidentifikasi 157 peristiwa cuaca ekstrem paling parah di tahun 2025. Peristiwa tersebut memenuhi kriteria seperti menyebabkan lebih dari 100 kematian, memengaruhi lebih dari setengah populasi suatu wilayah, atau menyebabkan deklarasi keadaan darurat. 

Mereka menganalisis 22 peristiwa secara cermat, termasuk gelombang panas berbahaya. WWA bencana ini sebagai cuaca ekstrem mematikan di dunia pada tahun 2025. 

Para peneliti mengatakan beberapa gelombang panas yang mereka pelajari pada tahun 2025, sebanyak 10 kali lebih mungkin terjadi daripada satu dekade lalu karena perubahan iklim.

“Gelombang panas yang kita amati tahun ini adalah kejadian yang cukup umum dalam iklim kita saat ini, tetapi hampir tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Ini membuat perbedaan besar,” kata Otto.

Sementara itu, kekeringan berkepanjangan menyebabkan kebakaran hutan yang menghanguskan Yunani dan Turki. Hujan deras dan banjir di Meksiko menewaskan puluhan orang dan menyebabkan banyak lainnya hilang. Topan Super Fung-wong menghantam Filipina, memaksa lebih dari satu juta orang untuk mengungsi. Hujan monsun menghantam India dengan banjir dan tanah longsor.

Kejadian ekstrem yang semakin sering dan parah memaksa jutaan manusia untuk beradaptasi dengan situasi baru ini. Adaptasi ini artinya pemberian peringatan, waktu, dan sumber daya. 

Negosiasi iklim global tersendat

Ironisnya, perundingan iklim PBB pada bulan November 2025 lalu di Brasil berakhir tanpa rencana eksplisit untuk beralih dari bahan bakar fosil. Banyak uang dijanjikan untuk membantu negara-negara beradaptasi dengan perubahan iklim namun mereka akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk melakukannya.

Para pejabat, ilmuwan, dan analis telah mengakui pemanasan suhu bumi akan melampaui 1,5 derajat Celcius meskipun beberapa mengatakan membalikkan tren tersebut masih mungkin. Namun, berbagai negara melihat tingkat kemajuan yang berbeda.

China dengan cepat menerapkan energi terbarukan termasuk tenaga surya dan angin  tetapi juga terus berinvestasi dalam batu bara. 

Cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi telah memicu seruan untuk aksi iklim di seluruh Eropa, beberapa negara mengatakan hal itu membatasi pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, di AS, pemerintahan Trump telah mengarahkan negara tersebut menjauh dari kebijakan energi bersih dan lebih memilih langkah-langkah yang mendukung batu bara, minyak, dan gas.

“Cuaca geopolitik tahun ini sangat mendung, dengan banyak pembuat kebijakan yang jelas-jelas membuat kebijakan untuk kepentingan industri bahan bakar fosil daripada untuk kepentingan penduduk negara mereka,” kata Otto. 

Dan kita, kata dia, memiliki banyak sekali informasi yang salah dan menyesatkan yang harus dihadapi masyarakat.

SHARE