Mengatasi Krisis Iklim Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi: RIlis OECD

Penulis : Kennial Laia

Krisis Iklim

Minggu, 06 April 2025

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Mengambil tindakan tegas untuk mengatasi krisis iklim akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia, bukannya merusak keuangan seperti yang diklaim oleh para pengkritik kebijakan net zero, demikian temuan penelitian dari pengawas ekonomi dunia.

Menetapkan target ambisius dalam mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menetapkan kebijakan untuk mencapainya, akan menghasilkan keuntungan bersih terhadap PDB global pada akhir dekade berikutnya, menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dalam laporan bersama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP), dirilis Rabu, 26 Maret 2025.  

Perhitungan keuntungan bersih, sebesar 0,23% pada 2040, akan lebih besar lagi pada 2050. Ini jika perhitungan tersebut mencakup manfaat menghindari risiko kehancuran yang memperburuk ekonomi jika pengurangan emisi tidak dilakukan. 

Pada 2050, negara-negara maju akan menikmati peningkatan pertumbuhan PDB per kapita sebesar 60%, sementara pada tahun yang sama negara-negara berpendapatan rendah akan mengalami kenaikan sebesar 124% dibandingkan tahun 2025.

Salah satu instalasi pembangkit listrik surya atap di gedung perkantoran di Jakarta. Dok. KESDM

Dalam jangka pendek, terdapat pula manfaat bagi negara-negara berkembang, dimana 175 juta orang akan terangkat dari kemiskinan pada akhir dekade ini, jika pemerintah berinvestasi dalam pengurangan emisi mulai dari sekarang.

Sebaliknya, sepertiga PDB global bisa hilang pada abad ini jika krisis iklim dibiarkan tidak terkendali.

"Bukti luar biasa yang kita miliki sekarang adalah bahwa kita tidak mengalami kemunduran jika kita berinvestasi dalam transisi iklim. Kita sebenarnya melihat sedikit peningkatan dalam pertumbuhan PDB, yang mungkin terlihat kecil pada awalnya, namun tumbuh dengan cepat," kata Sekretaris Eksekutif UNDP Achim Steiner. 

Sementara itu Ketua Iklim PBB Simon Stiell memperingatkan dalam pidatonya pada Rabu pagi di Berlin bahwa Eropa akan menderita kehancuran ekonomi akibat krisis iklim, jika tindakan tegas tidak segera diambil. Cuaca ekstrem akan mengurangi 1% PDB Eropa sebelum pertengahan abad ini, dan pada tahun 2050 akan menyusutkan perekonomian sebesar 2,3% per tahun.

Meskipun angka-angka tersebut mungkin terlihat kecil, namun yang penting adalah kontraksi ekonomi akan terus berlanjut dari tahun ke tahun. Sebagai perbandingan, krisis keuangan tahun 2008-2009 menyebabkan kontraksi sebesar 5,5% di UE, namun pemulihan dimulai dalam beberapa tahun. Kontraksi akibat krisis iklim setara dengan resesi serius yang terjadi setiap tahun.

Jika level kerusakan seperti saat ini terus berlangsung, dalam dua dekade perekonomian UE akan lenyap, kata Stiell. 

“[Kerusakan iklim] adalah resep terjadinya resesi permanen,” Stiell menekankan. “Ketika bencana membuat semakin banyak daerah tidak dapat dihuni, dan produksi pangan menurun, jutaan orang akan terpaksa bermigrasi, baik secara internal maupun lintas batas negara.”

“Krisis iklim adalah krisis keamanan nasional yang mendesak dan harus menjadi prioritas utama dalam setiap agenda kabinet,” ujarnya. 

Para kritikus terhadap target mencapai nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050 mengeluh bahwa mengatasi krisis iklim, dengan beralih dari bahan bakar fosil ke perekonomian rendah karbon, akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan melumpuhkan perekonomian global.

Namun, biaya yang dikeluarkan untuk berinvestasi pada energi terbarukan relatif kecil jika dibandingkan dengan kemungkinan kerugian yang ditimbulkannya. Di Inggris, biaya yang harus dikeluarkan diperkirakan sebesar 0,2% dari PDB per tahun hingga 2050. Memberikan pendanaan iklim kepada negara-negara miskin juga akan menguntungkan negara-negara kaya.

Data dari Badan Energi Terbarukan Internasional (Irena), yang diterbitkan pada hari yang sama, menemukan pertumbuhan kapasitas energi terbarukan yang memecahkan rekor tahun lalu sebesar 15%. Hampir dua pertiga pertumbuhan tersebut berasal dari Tiongkok, negara dengan pembangkit energi ramah lingkungan terbesar di dunia.

“Pertumbuhan berkelanjutan energi terbarukan yang kita saksikan setiap tahun adalah bukti bahwa energi terbarukan layak secara ekonomi dan mudah diterapkan,” kata Direktur Jenderal Irena, Francesco La Camera. 

Namun, bahan bakar fosil terus menarik investasi. Pada 2023, sekitar 1,5 juta lapangan kerja baru tercipta di sektor energi ramah lingkungan global – namun hampir 1 juta lapangan kerja juga tercipta di industri bahan bakar fosil.

SHARE