H+7 Lebaran, Polusi Udara Sudah Balik Ke Jakarta

Penulis : Raden Ariyo Wicaksono

Polusi

Kamis, 18 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID - Sepekan setelah Idul Fitri, kualitas udara di DKI Jakarta, kembali memburuk. Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, DKI Jakarta menempati peringkat kelima kota besar di dunia dengan kualitas udara terburuk.

Berdasarkan pantauan pada 17 April 2024, pukul 13.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 151, masuk dalam kategori tidak sehat. Dengan polutan utama yakni partikel halus (particulate matter/PM) 2.5, dengan konsentrasi sebesar 56 µg/m³, 11.2 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

AQI di Jakarta pada 17 April 2024 menunjukkan angka paling tinggi pada pukul 03.00 WIB, yang mencapai 154, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 61.9 µg/m³. Angka AQI dan PM2.5 di Jakarta pada 17 April 2024 ini adalah yang terburuk sejak Idul Fitri, 10 April 2024.

Namun dilihat dari rangking kota se-Indonesia, Jakarta hanya menempati peringkat kedua terburuk. Peringkat pertama diduduki oleh Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten yang mencapai yakni 152 dengan konsentrasi PM25 sebesar 57 µg/m³, 11.4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

Kondisi Jakarta yang tampak berkabut asap akibat polusi udara. Foto: Trend Asia.

Bila dilihat secara global, 4 kota besar teratas dengan indeks kualitas udara terburuk di Dunia, yakni Busan-Korea Selatan sebesar 176, Karaci-Pakistan sebesar 170, Kolkata-India sebesar 157, dan Dhaka-Bangladesh sebesar 155.

Menurut AQI Air, polusi udara yang terjadi di Jakarta ini berpotensi menyebabkan 2.800 kematian, dan telah menyebabkan kerugian sekitar USD730,000,000.

AQIAir menyebutkan, biaya mengurangi polusi udara dengan beralih dari bahan bakar yang mencemari seperti batu bara, minyak, dan gas ke nol-emisi sumber energi alternatif seperti angin dan matahari mungkin tampak tinggi. Tetapi biaya kesehatan dan biaya ekonomi polusi udara jelas jauh lebih tinggi, dan sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari sebenarnya semakin murah daripada mencemari bahan bakar fosil.

"Bahan bakar fosil menyebabkan 4,5 juta kematian prematur setiap tahun, biaya $8 miliar setiap hari, menyebabkan 40.000 kematian anak -anak di bawah 5 tahun, dan mengakibatkan 1,8 miliar hari kerja hilang dari penyakit yang terkait dengan PM2.5," kata AQIAir.

SHARE