Migrasi Pari Manta di Raja Ampat Mirip Mudik Orang Jakarta Asli

Penulis : Kennial Laia

Spesies

Sabtu, 13 April 2024

Editor : Yosep Suprayogi

BETAHITA.ID -  Pari manta karang, satwa rentan punah di Raja Ampat Papua Barat Daya, memiliki kebiasaan berpindah-pindah dari satu habitat ke habitat penting lainnya dengan jarak yang dekat. Hal ini terungkap dalam sebuah studi teranyar dari Indonesia. 

Penelitian tersebut, yang diterbitkan di jurnal Royal Society Open Science, mengungkap bahwa pari manta karang (Mobula alfredi) sering bermigrasi ke wilayah yang dekat dan sesekali saja melakukan perjalanan jarak jauh, seperti terdeteksi oleh rangkaian penerima sinyal akustik yang dipasang di seluruh perairan Raja Ampat

Redaksi Betahita.ID melihat fenomena ini mirip mobilitas mudik di DKI Jakarta untuk warga asli Jakarta.

Edy Setyawan, penulis utama dan peneliti di Conservation International, mengatakan bahwa penelitian itu memberikan informasi terbaru pada pola pergerakan yang kompleks dari pari manta karang di Raja Ampat, yang menekankan perlu adanya pendekatan yang tepat dan terukur dalam upaya konservasi jenis ikan rentan punah tersebut. 

Kelompok pari manta karang terlihat di permukaan perairan sekitar situs penyelaman di Raja Ampat, Papua Barat, Maret 2022. Dok Konservasi Indonesia/Abdi Hasan

Pari mantan kurang masuk ke dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dengan status Vulnerable atau Rentan, yang berarti menghadapi risiko kepunahan yang tinggi di alam liar. 

Edy mengatakan, penelitian tersebut mengidentifikasi hub atau pusat lokasi dalam jaringan pergerakan pari manta karang yang vital untuk navigasi dan kelangsungan hidup mereka. Studi itu menemukan satu hal krusial, yakni keberadaan tiga sub-populasi pari manta karang yang secara demografis dan geografis berbeda. 

Ketiga sub-populasi ini menghuni tiga area di perairan Raja Ampat. Di antaranya atol Ayau di bagian utara, ekosistem terumbung karang di barat laut, serta di bagian tenggara Pulau Misool di selatan Raja Ampat.

“Ketiga area itu menunjukkan adanya struktur meta-populasi atau struktur yang terdiri dari sub-populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan pari manta karang,” kata Edy. 

Menurut Edy, tim peneliti tidak menduga temuan tersebut, mengingat pari manta karang memiliki kemampuan untuk berpindah ratusan kilometer dan tidak ada hambatan yang jelas untuk menghalangi pergerakan mereka antara ketiga wilayah tersebut di Raja Ampat. 

“Dengan kata lain, temuan tersebut menunjukkan bahwa pari manta karang di masing-masing wilayah cenderung tetap dekat dengan rumah dan jarang berpindah antar wilayah,” kata Edy. 

“Memahami jaringan ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi habitat penting dan koridor migrasi pari manta karang, dan dapat menjadi masukan untuk upaya konservasi yang krusial bagi kelangsungan hidup jenis ikan ini,” ujarnya. 

Individu manta karang berwarna chevron terlihat di sekitar situs penyelaman Manta Sandy, Raja Ampat, Maret 2022. Dok. Konservasi Indonesia/Abdi Hasan

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, yang juga menjadi salah satu penulis dari penelitian ini menyebut hasil temuan pada penelitian ini dapat mendukung pengelolaan kawasan konservasi perairan Raja Ampat.

“Berdasarkan temuan tersebut, kami merekomendasikan agar pengelola kawasan konservasi perairan di Raja Ampat mempertimbangkan untuk meningkatkan pendekatan mereka dalam pengelolaan meta-populasi pari manta karang di Raja Ampat,” kata Iqbal. 

“Salah satunya dengan menciptakan tiga unit pengelolaan yang masing-masing berfokus pada satu sub-populasi pari manta karang,” katanya.

Vice president of Asia-Pacific Marine Programs Conservation International Dr. Mark Erdmann mengatakan temuan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk perluasan perlindungan pari manta karang. 

“Studi ini juga menyoroti satu situs agregasi pari manta yang dikenal sebagai Eagle Rock, yang tidak jauh di selatan Pulau Kawe, sebagai hub penting dalam jaringan pergerakan pari manta karang,” kata Erdmann. 

“Temuan ini menekankan kebutuhan yang sangat mendesak untuk memperluas perlindungan spasial hingga ke area ini melalui perluasan jejaring KKP di Raja Ampat, terutama karena meningkatnya ancaman terhadap area penting ini dari aktivitas tambang nikel di Pulau Kawe,” ujar Erdmann.

Kelompok manta karang terlihat sedang melakukan pembersihan di situs penyelaman Manta Ridge, Raja Ampat, Maret 2022. Dok. Konservasi Indonesia/Abdi Hasan

Syafri, Kepala Badan Layanan Umum Daerah Unit Pelaksana Teknis Dinas Pengelolaan Kawasan Konservasi di Perairan Kepulauan Raja Ampat menyatakan, rekomendasi dalam studi tersebut sangat penting untuk meningkatkan upaya konservasi di Raja Ampat. 

“Temuan-temuan ini sangat penting untuk menyempurnakan upaya konservasi spesies ikonik kami di Raja Ampat,” katanya. 

“Kami akan mempertimbangkan rekomendasi ini secara serius dan selanjutnya berkolaborasi dengan Pokja Manta untuk menyempurnakan dan mengintegrasikannya ke dalam strategi pari manta saat ini,” ujar Syafri. 

Para peneliti berharap hasil penelitian terbaru ini dapat membuka jalan untuk peluang penelitian di masa depan, termasuk studi genetik dan telemetri satelit, yang bertujuan untuk memahami lebih dalam dan rinci tentang struktur populasi, daya jelajah, dan sebaran pari manta karang. Hal ini untuk meningkatkan strategi pengelolaan dan konservasi jenis ikan yang menjadi ikon pariwisata di Raja Ampat. 

Penelitian tersebut berlangsung selama 2016-2021, dan melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah daerah, Konservasi Indonesia, Conservation International, Macquarie University (Australia), dan University of Auckland (Selandia Baru). 

SHARE